Senin, 17 Oktober 2011

“Looking for Alternative Model in reference to Japan Educational Experiences” MATH PROGRAM FOR INTERNATIONAL COORPERATION IN INDONESIA


By: Marsigit
Reviewed by: Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY

 
                Kondisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini masih memperlihatkan adanya dominasi gru dalam proses pembelajaran. Di dalam proses pembelajaran waktu lebih banya digunakan oleh guru untuk menjelaskan dan mentrasfer informasi kepada murid tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan kreatifitas berfikirnya, siswa hanya sekedar duduk diam dan mendenganrkan apa yang dijelaskan oleh guru. Media pembelajaran yang ada seperti papan tulis tidak dimanfaatkan semestinya sebagai alat untuk membantu siswa membangun pengetahuan mereka sendiri tetapi lebih banyak digunakan sebagai area guru mendiskripsikan informasi yang akan disampaikan kepada siswa. Padahal tuntutan dunia pendidikan di masa yang akan dating adalah kemampuan siswa untuk berfikir tingkat tinggi, jika metode yang digunakan oleh guru masih bertahan pada metode dimana guru sebagai pusat yang mendominasi kegiatan pembelajaran maka siswa tidak akan mampu mencapai tahap berfikir tingkat tinggi.
                Beberapa hambatan yang dihadapi dalam usaha untuk memajukan perubahan dibidang pendidikan di Indonesia diantaranya adalah: lingkungan pendidikan yang terlalu kompleks, keterbatasan anggaran biaya, kurangnya fasilitas dan sumber pendidikan, kondisi pendidikan yang berbeda-beda seperti suku, wilayah, budaya dan nilai, kurangnya pemahaman guru tentang teori pembelajran yang baik dan bagaiman untuk menerapkannya, pengembangan pendidikan yang setengah-setengah, diantara berbasis pada hakekat dari ilmu pengetahuan dan pendidikan atau berdasar pada kebutuhan akan kemampuan berkompetensi di era global.
Pendidikan di Indonesia
                Pembelajaran matematika di Indonesia sekarang ini manunjukkan bahwa pencapaian siswa pada mata pelajaran matematika dan IPA masih rendah, hal ini berdasarkan pada hasil ujian nasionala dari tahun ke tahun baik di tingkat pendidikan dasar maupun tingkat pendidikan menengah. Hal ini di sebabkan oleh banyak factor baik dari metode yang digunakan yang berimplikasi pada kualitas pembelajaran maupun kualifikasi kemampuan dari guru itu sendiri.
Alternatif model pembelajaran berdasarkan pada pengalaman Jepang 
                Setelah perang dunia ke dua pemerintah Jepang mengambil kebijakan untuk menyusun system penerbitan buku teks untuk sekolah, dimana buku-buku yang akan digunakan dalam proses pembelajaran harus melalui proses sensor. Selain itu seseorang yang akan menjadi guru harus memiliki lisensi, lisensi ini akan berlaku seumur hidup dan bukan merupakan lisensi yang memerlukan proses perpanjangan. Masing-masing sekolah memiliki beragam aktivitas yang bertujuan untuk memperbaiki kemampuan mengajar guru (Nishitani,2002) diantaranya adalah: (a) beberapa sekolah memperkenalkan kelas mereka kepada masyarakat, hal ini menjadikan banyaknya guru yang mengunjungi sekolah tersebut dan melihat berlangsungnya kelas kemudian berdiskusi, (b) setiap sekolah dasar memiliki kelas penelitian dimana beberapa guru dapat memperlihatkan berlangsungnya kelas mereka kepada guru yang lain, kemudian setelah kelas berakhir semua guru yang tadi melakukan pengamatan berdiskusi tentang kelas yang mereka amati, (c) setiap sekolah memperkenalkan kelas mereka kepada masyarakat beberapa kali dalam setahun sehingga banyak orang tua siswa yang mengunjungi sekolah dan melihat anaknya belajar, (d) ada banyak kesempatan bagi guru untuk mengikuti pelatihan yang disediakan oleh lembaga pemerhati pendidikan dan universitas. Sedangkan pengembangan strategi yang dilakukan oleh guru meliputi: pembelajaran konsep dasar, memahami masalah, harapan, memecahkan masalah, merangkum isi dari pembelajaran, dan mengaplikasikan isi dari pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar