Refleksi Perkuliahan
Filsafat Pendidikan Matematika
Nama : Ridha Esty Argarini
NIM : 09301241008
Prodi : Pendidikan Matematika
2009
Iceberg
approach adalah gunung es dari matematika realistic. Yang paling bawah
menunjukkan matematika konkrit, yang di
atasnya adalah model konkrit, kemudian di atasnya lagi ada model formal ,
kemudian di paling atas terdapat matematika formal. Ini merupakan hermeneutika,
sehingga nampak bahwa filsafat digunakan dalam berbagai hal termasuk juga dalam
pembelajaran matematikan dengan adanya hermeneutika pembelajaran matematika. Unsur
dasar dari gambaran hermeneutika adalah lurus dan melingkar. Lurus karena dalam
kehidupan ini, ada beberapa hal yang tidak mungkin terjadi kembali, artinya hal
yang sama dari masa lalu ada yang tidak mungkin terulang kembali, kesemuanya
bersifat menembus ruang dan waktu. Seberapa sulit ataupun mudah proses ini
terjadi bergantung pada kesadaran, sebuah batu tentu tidak menyadari bahwa dirinya
telah menembus ruang dan waktu. Msing-masing manusia memiliki keterampilan yang
berbeda-beda dalam hal menembus ruang dan waktu. Dalam hal ini yang dinyatakan
sebagai ruang ternyata berdimensi-dimensi demikian juga dengan waktu.
Gambaran
melingkar dari hermeneutika berarti berimteraksi. Sebagai contoh, yang di atas
guru yang di bawah murid, yang di atas kakak yang di bawah adik, yang di atas
akhirat yang di bawah dunia, yang di atas langit yang di bawah bumi dan
sebagainya. Dengan demikian secara luas dapat dikatakan bahwa
hermeneutikanmeliputi yang ada dan yang mungkin ada. Melalui hermeneutika
diharapkan seseorang dapat menjadi manusia yang independen, mampu bekerjasama,
memiliki motivasi dan memiliki kompetensi. Akan tetapi yang perlu diwaspadai ketika
sudah mencapai taraf global adalah sampah-sampah global yang mengganggu
keharmonisan kehidupan.
Semakin
lama ilmu pengetahuan semakin berkembang, akibatnya teknologi semakin
berkembang, sehingga dunia semakin nampak kecil, hal ini mengakibatkan manusia-manusia
semakin sombong dan fulgar. Yang uncul adalah, beberapa dari mereka sudah mulai
mempromosikan dunia yang satu yaitu dunia milikinya. Dunia yang satu adalah
dunia yang mereka pikirkan. Bagi yang tidak mengerti maka toleransi dianggap
sebagai kewajaran dan keharusan, sebagai contohnya adalah sikap terhadap
koruptor, sebagian besar orang bersifat cenderung pasif terhadap munculnya
koruptor, hal ini karena tidak mengerti bahwa yang dikorupsi adalah termasuk
yang menjadi hak miliknya. Karena tidak mengerti maka diam saja. Akan tetapi
bagi dunia professional toleransi adalah tanda bahwa orang tersebut tidak
mengerti. Contoh bangsa yang sangat fanatic adalah negara Jepang, fanatic dari
bangsa Jepang ditunjukkkan dengan beberapa hal termasuk dalam penggunaan bahasa
internasional yang mereka akui yaitu bahasa dari bangsa mereka sendiri yaitu
bahasa Jepang.
Dalam
proses memunculkan dunia yang satu masing-masing orang ataupun kelompok membuat
presepsi sendiri mengenai dunia mereka sendiri yang akan mereka bangun. Tidak
jarang dalam proses tersebut peletakkan dasar-dasarnya tidak sesuai dnegan yang
seharusnya sehingga terjadilah hal-hal yang manyimpang. Sebagai contoh ketika
agama atau spiritual tidak diletakkan sebagia landasan paling atas dari proses
pembangunan dunia mereka, maka yang terjadi adalah kriris keyakinan akan
keberadaan Tuhan.
Di
dalam kehidupan, sebagian dari hermeneutika ada yang sifatnya rutin, misalnya
dari hari Senin menuju hari Senin berikutnya, sore bertemu dengan sore
berikutnya dan seterusnya. Dalam kejadian yang rutin ini ada proses yang
bernama pengembangan diri, melalui rutin ini ada sesuatu yang berkembang,
contohnya adalah membisakan yang mungkin bisa atau mengadakan yang mungkin ada.
Dalam hal ini yang mungkin ada bukanlah hanya pikiran saja, tetapi juga
aktivitas dan pengalaman. Sehingga ternyata yang mungkin ada juga meliputi yang
ada dan yang mungkin ada.
Seperti
diungkapkan dalam konsep gunung es matematika terbangun atas, matematika
konkrit, model konkrit, model formal dan matematika formal. Contoh matematika
konkrit adalah matematika dalam lingkungan, contohnya adalah ketika siswa
diminta untuk membilang banyaknya daun pada ubi karet. Tapi jika sudah dalam
bentuk gambar atau sudah dalam bentuk foto maka sudah masuk pada model konkrit,
sudah terkena manipulasi. Kemudian masuk pada tingkatan bentuk formal dari
menhitung banyak daun ubi karet.
Ice
berg adalah konsep yang dikembangkan oleh bangsa barat dimana secara lingkungan
memang dapat ditemukan gunung es. Tapi di Indonesia tentu tidak akan bisa
menemukan gunung es. Yang ada hanya
gunung-gunung vulkanik, semisal gunung merapi, atau mungkin gunungan atau
gunung yang tersusun atas makanan, sayuran, ataupun tumpeng yang biasa
digunakan pada upacara adat. Gunung
vulkanik di Indonesia berpotensi untuk menimbulkan bencana, dalam hal
menanggapai bencana ini jika warga tidak siap maka tentu akan menjadi
malapetaka yang merugikan akan tetapi jika siap maka bencana ini justru dapat
menjadi rahmat. Hal ini analog dengan yang terjadi dalam matematika, ketika
guru mengajar dan siswa tidak siap dengan tidak adanya apersepsi, maka akan
pembelajaran akan menjadi bencana bagi siswa itu sendiri. Maka yang perlu
dilakukan sebalum memulai pembaelajaran adalah mengkondisikan siswa supaya siap
untuk memulai proses pembelajaran. Salah satu cara untuk membuas siswa siap
adalah melalui komunikasi dengan dunia siswa. Berbicara mengenai siswa adalah
berbicara mengenai masalah psikologis dan education, matematika murni tentu
saja tidak cukup untuk mampu menyelesaikan permasalahan dalam dunia pendidikan.
Berdasarkan
pada fenomenologi dari Husser, fenomenologi tersusun atas dua unsure dasar
yaitu, idealisasi dan abstraksi. Dalam filsafat yang fenomena adalah meliputi
yang ada dan yang mungkin ada.
Sebagai
seorang guru yag menjadi tugas utama untuk saat ini adalah berusaha merebut
kembali intuisi yang telah hilang dari siswa kemudian mengembangkannya dengan
berbagai macam cara yang tentunya sesuai dengan tugas yang diberikan. Hal ini
yang menjadi masalah utama dari dunia pendidikan. Alasan perubahan kurikulum
2006 menjadi kurikulum 2013 adalah karena siswa tidak mampu mengerjakan soal-soal UN setara dengan
anak-anak dunia Internasional. Intuisi bukanlah hal sederhana. Intuisi harus didahului
dengan kesadaran dan persepsi serta sensasi (pengindraan). Intusi berkembang
dengan indera, ketika indera pengelihatan hilang, bukan berarti intuisi hilang
100%, karena masih bisa dilakukan dengan menggunakan bantuan indera
pendengaran, indera penciuman, dan indera peraba.
Pengalaman
berada dibawah logika. Pengalaman bersifat kontingen, aposteori dan empirikal. Intuisi
tumbuh sejak kecil, contohnya ketika seorang anak belajar mengnal konsep besar
kecil, banyak sedikit, kualitas kunatitas, dalam proses ini tidak terasa
terbentuklah kategori dalam pikiran. Oleh Immanuel Kant digambarkan dalam 4
kategori . Sebagai contoh ketika seorang anak kecil belejar mengenal konsep
satu, dua dan seterusnya dalam kategori kuantitas, ketika si anak kecil telah
menggunakan kosep tersebut, maka kan berubah menjadi regulasi.
Probability
adalah berpikir mengenai kemungkinan, sehingga pada anak kecil hal ini
menimbulkan kebimbangan, kebimbangan inilah yang menjadi ciri bahwa seorang
anak sudah mampu berpikir probability. Berikutnya adalah asersi atau catatan.
Asersi merupakan hal yang sangat penting sehingga dapat dikatakan bahwa hidup
merupakan asersi yaitu catatan yang dibukukan, yang kelak akan dibuka ketika
sudah di akhirat. Apodiktif adalah berpikir matematika, misalnya sudah seorang
anak yang sudah berusia 2 tahun, sudah mampu menyebutkan bahwa 1+1=2, maka anak
ini disebut telah memiliki kepastian yang kemudian digunakan dan diterapkan.
Hermeneutika
dapat pula terbagi dalam beberapa kategori, hermeneutika tingkat local, tingkal
nasional, tingkat internasional, hermeneutika tingkat spiritual. Teori
Silaturahim dari Profesor Marsigit dikembangkan berdasarkan pada hermeneutika,
dapat dikatakan bahwa teori silaturahim merupakan nama lain dari hermeneutika. Sebagai
contoh dalam belajar matematika bersilaturahim dengan matematika artinya,
berkativitas yang berhubungan dengan matematika. Yang menjadi permasalahan
dalam pendidikan di Indonesia adalah anggapan bahwa siswa adalah tong kosong
yang kemudian perlu untuk dipegang erat-erat kemudian diisi dengan ilmu. Sehingga
tantangan bagi guru sekarang adalah bagaiman caranya akan persepsi ini dapat
berubah, sehingga intuisi siswa kembali berkembang dengan dengan baik dan siswa
belajar dengan proses dan cara yang semestinya.