Rabu, 21 September 2011

Kegiatan Penelitian Sebagai Usaha untuk Meningkatkan Profrsionalisme Guru Matematika


Oleh : Marsigit
Reviewed by : Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY

                Research is an activity to get a knowledge, which is done with prosedure and supported by a metodologi. The innovative teacher should have knowledge about teaching mathematics which is appropriate with the trend of mathematics education in this world. A mathematics teacher can change the method of mathematics learning by doing experiment. Approaching of mathematics education research is done by many ways, including quantitative research. Quantitative research use logiko-hipoteko-verivikatif method on their thinking framework, with using this order procedure: define a problem, formulating the hypothesis about the teaching learning of mathematics, to collect the data about the practice of teaching mathematics, data analyze, hypothesis testing, conclusion and finish.
                  Research also can define as a hermeunitic activity. In a board outline there are two kinds of hermeunitic on the mathematics learning research. If the researcher was directing their attention on the specific things and try to undercover the mathematics learning phenomena as a real world that is can define with the theory or method and then the researcher develop research method then this is called realistic hermeunitic. But if the teacher tried to get an illustration of the world of mathematic learning and also doing a world deconstruction, actually in the world of mathematics education this is called deconstruction hermeunitic.
                Now we want break down about the range and the method of mathematics education research. The range of mathematics education research actually is based on each teacher. Talking about research method, we should know first that there are some methods to doing a research actually in mathematics education. The method which is used by teacher should be appropriate with the purpose of the research, for example if the purpose is repairing mathematics learning on the content side then the teacher must doing an observation, if want to repair or get the innovative learning method then the researcher should pay attention on the context of learning mathematics, etc.
                The views of the nature and characteristic of school mathematics also give a character of school mathematics for over all. There are some characteristic of mathematics depend on the kind of mathematics like a pure mathematics, applied mathematics which is also called mathematics for school, and the researcher of mathematics education also should realize about it.
                With the research of mathematics education we knew that there are differences between individual and group on the learning of mathematics, we can define the position of student in the group, and compare the learning result of each group. By doing a research we also can investigate the suitability between the purpose and the result of learning mathematics.

Wawasan Tentang Strategi dan Aplikasi Pembelajaran Matematika Berbasis Kompetensi


Oleh : Marsigit
Reviewed by : Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY

                Nowadays the dinamica of Indonesia development demand that the development of curicullum sould pay attention on the most up to date issued on education, the reality problems, school variation, the staff of education, the ability of student and also demand of sociaty development, science and technology. Mathematics education which is based on competency press on the ability of the graduate must have, so the currilulum develop based on the break down of the standard competency to be a base ability like an affective ability, cognitive and also psychomotor. The syllabus of mathematics subject need to arrange so that is including the board line of learning content and refer to the purpose of competency.
                Ebbute and Staker (1995, 10-63) define a mathematics school as an investigation of pattern activity, mathematics as a creativity which is need imagination, intuition and invention, mathematics as a problem solving activity, mathematics as a media of communication. Ebbute and Straket also give their view that to optimal the potency of the student, the teacher should assumption that student will learn mathematics if they have motivation, the student will learn mathematics with their own way, the student learn mathematics individually and also on group, the student need the different context and situation on the learning of mathematics.
                This based on competency curriculum arrange in order to on the process of learning mathematics the student can doing an investigation activity, developing their creativity, doing a problem solving activity, and also communicate their mathematics idea to another people. To reach this competency we need to develop mathematics learning process which is appropriate with the context and also the application on the daily activities.
                For all level of education, the content of mathematics education are including (Ebburt and Straker, 1995): facts, concepts, reasoning skill, algorithm skill, problem solving skill, investigation skill.
                Experience and learning activity is an activity that the students need to do to reach the base competency and the content of learning. And we should realize that the student learning experience should be supported by available sources.
                 

The Effort to Increase The Student’s Motivation in Mathematics Learning With Some Teaching Aids in Junior High School 5 Wates, Kulonprogo, Yogyakarta, Indonesia


By: Marsigit and Ida Supadmi
Reviewed by : Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY

                Salah satu usaha guru untuk meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari matematika di tingkat SMP adalah dengan membuat proses belajar mengajar lebih nyaman , menarik dan dapat dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah dengan maemaksimalkan penggunaan alat bantu dala proses pembelajaran hal ini bertujuan untuk mempermudah siswa dalam mempelajari matematika, terutama dalam memahami konsep yang bersifat abstrak yang menjadi kesulitan bagi sebagian besar siswa.
                Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah yang muncul pada siswa kelas dua SMP 5 Wates, Kulonprogo, Yogyakarta, Indonesia di caturwulan 1 tahun pelajaran 2001/2001.
                Kesuksesan proses belajar mengajar matematika bukan hanya karena guru sebagai pemberi informasi, sebagai komunikator dan sebagai fasilitator tetapi juga metode yang digunakan oleh guru tersebut. Aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh dua factor yaitu factor internal dan factor eksternal. Faktor eksternal diantaranya seorang guru harus bisa memotivasi siswa  dengan cara yang sekreatif mungkin. Sedangkan factor internalnya, menyangkut bahwa seorang siswa SMP kelas dua yang rata-rata usianya adalah 12-15 tahun pada masa ini siswa sedang beralih dari masa berfikir sesuatu yang nyata berubah ke pemikiran yang lebih abstrak sehingga alat bantu pembelajaran yang digunakan oleh guru harus dapat membantu proses peralihan berfikir siswa. Selain itu guru juga harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka secara mendiri, tetapi tetap membimbing dan mengawasi.
                Penelitian yang dilakukan adalah termasuk penelitian tindakan kelas. Rancangan pelaksanaannya adalah dengan melaksanakan proses pembelajaran dengan struktur pengenalan materi, pengembangan materi, aplikasi materi dan penutupan, dimana proses pengembangan dan aplikasi materi dilakukan di luar dan di dalam kelas. Sedangkan topic yang digunakan adalah kuadrat dan akar kuadrat, garis sejajar dan teorema phytagoras. Hasil penelitian dilihat dari peningkatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran matematika yang mengindikasikan bahwa siswa termotivasi untuk belajar matematika.
                Setelah dilakukannya serangkaian dari rencana penelitian di atas diperoleh hasil bahwa dengan menggunakan alat bantu seperti papan paku, karet gelang, kartu, lembar kerja siswa, kertas transparan dan potongan kayu dapat digunkan sebagai model dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan motivasi siswa dalam proses belajar mengajar. Sehingga sangat disarankan bagi guru untuk menggunakan alat bantu pembelajaran yang bervariasi pada setiap pembelajaran matematika tentunya alat bantuk yang digunakan disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
By: Marsigit and Ida Supadmi
Reviewed by : Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY
http/:ridhaestyargarini.blogspot.com

                Salah satu usaha guru untuk meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari matematika di tingkat SMP adalah dengan membuat proses belajar mengajar lebih nyaman , menarik dan dapat dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah dengan maemaksimalkan penggunaan alat bantu dala proses pembelajaran hal ini bertujuan untuk mempermudah siswa dalam mempelajari matematika, terutama dalam memahami konsep yang bersifat abstrak yang menjadi kesulitan bagi sebagian besar siswa.
                Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah yang muncul pada siswa kelas dua SMP 5 Wates, Kulonprogo, Yogyakarta, Indonesia di caturwulan 1 tahun pelajaran 2001/2001.
                Kesuksesan proses belajar mengajar matematika bukan hanya karena guru sebagai pemberi informasi, sebagai komunikator dan sebagai fasilitator tetapi juga metode yang digunakan oleh guru tersebut. Aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh dua factor yaitu factor internal dan factor eksternal. Faktor eksternal diantaranya seorang guru harus bisa memotivasi siswa  dengan cara yang sekreatif mungkin. Sedangkan factor internalnya, menyangkut bahwa seorang siswa SMP kelas dua yang rata-rata usianya adalah 12-15 tahun pada masa ini siswa sedang beralih dari masa berfikir sesuatu yang nyata berubah ke pemikiran yang lebih abstrak sehingga alat bantu pembelajaran yang digunakan oleh guru harus dapat membantu proses peralihan berfikir siswa. Selain itu guru juga harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka secara mendiri, tetapi tetap membimbing dan mengawasi.
                Penelitian yang dilakukan adalah termasuk penelitian tindakan kelas. Rancangan pelaksanaannya adalah dengan melaksanakan proses pembelajaran dengan struktur pengenalan materi, pengembangan materi, aplikasi materi dan penutupan, dimana proses pengembangan dan aplikasi materi dilakukan di luar dan di dalam kelas. Sedangkan topic yang digunakan adalah kuadrat dan akar kuadrat, garis sejajar dan teorema phytagoras. Hasil penelitian dilihat dari peningkatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran matematika yang mengindikasikan bahwa siswa termotivasi untuk belajar matematika.
                Setelah dilakukannya serangkaian dari rencana penelitian di atas diperoleh hasil bahwa dengan menggunakan alat bantu seperti papan paku, karet gelang, kartu, lembar kerja siswa, kertas transparan dan potongan kayu dapat digunkan sebagai model dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan motivasi siswa dalam proses belajar mengajar. Sehingga sangat disarankan bagi guru untuk menggunakan alat bantu pembelajaran yang bervariasi pada setiap pembelajaran matematika tentunya alat bantuk yang digunakan disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.

Developing ICT for Primary and Secondary Mathematics Teacher Professional Development : The Use Of Video in Lesson Study


Oleh : Marsigit
Reviewed by : Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY

                Sebagian besar calon guru matematika tidak banyak mempuyai kesempatan untuk melakukan pengamatan tentang keefektifan penggunaan metode pembelajaran dalam kondisi nyata di kelas karena pada pengalaman pertama kali mereka mengajar mereka lebih banyak menggunakan metode pembelajaran tradisional. Penggunaan VTR (Video Tape Recorder) ini merupakan salah satu pengembangan ICT untuk mendukung pengembangan keprofesionalan guru. Merefleksi praktek mengajar matematika  yang baik melalui VTR terbukti dapat mendorong dan memotivasi guru untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya.
                VTR (Video Tape Recorder) untuk pendidikan guru dan perbaikan dalam pendidikan matematika khususnya untuk mengembangkan lesson study memiliki beberapa keuntungan seperti : rangkuman dari pelajaran yang menekankan pada masalah utama pelajaran, bagian dari pelajaran dan kejadian-kejadian utama di dalam kelas, hal-hal yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi dan refleksi (Isoda M, 2006). Jika ingin mengamati proses belajar mengajar melalui VTR, rangkuman pendek dibutuhkan untuk memahami isinya, dan kita perlu mengamati VTR beberapa kali agar dapat memahami isinya dnegan jelas.
                Belajar dengan menggunakan video akan memberikan kesempatan bagi kita untuk mengamati apa yang kita pelajari di kelas dan kemudian mengaplikasikannya dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelas.
Penggunaan VTR dalam Kegiatan Lesson Study : Konteks Jepang dan Indonesia
VTR dalam konteks Jepang, diambil sebagai contoh Kayuza Saito seorang guru kelas 4 SD di SD Ookoyama kota Yokohama,Jepang. Topik yang dibahas adalah menghitung luas dari bidang datar dengan kegiatan kelasnya adalah siswa memilih sendiri tugas mana yang lebih mereka sukai, tujuan dari pembelajaran ini diantara siswa dapat memahami rumus dari sebuah bentuk bangun datar dan menggunakannya untuk mencari luas, siswa dapat menemukan luas dari bangun datar dengan menggunakan pengatahuan yang telah dimiliki, siswa dapat menyusun rumus untuk menghitung luas jajar genjang, siswa dapat menemukan luas dari sebuah bentuk bangun datar tertentu secara efisien, siswa mamahami bagaimana mencari luas dari daerah tertentu suatu bangun datar.
VTR dalam konteks Indonesia, diambil sebagai contoh Budiayati seorang guru kelas 4 SD di SD Percobaan 2 Yogyakarta. Standar kompetensinya adalah memahami dan mengaplikasikan faktor dan perkalian bilangan untuk menyelesaikan masalah. Pertama guru memberikan pendahuluan berupa pertanyaan yang berhubunngan dengan kehidupan sehari-hari siswa, kemudian membentuk bimbing oleh guru.
Setelah melihat VTR di atas, secara umum aktivitas merefleksi konteks Jepang dalam mengajar matematika melalui VTR dalam suatu program pelatihan dinilai bagus dan sangat membantu oleh para guru.  Mereka menilai bahwa hal ini bagus untuk diterapkan di Indonesia, meskipun mereka juga meniali bahwa hal ini bukanlah hal yang mudah.
Untuk dapat mendukung pengembangan VTR maka hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah dukungan dari guru-guru, para peneliti dalam ilmu pendidikan dan subjek yang berkaitan, orang tua dll, lebih banyak klagi investasi dalam bidang penelitian pendidikan, lebih banyak lagi koleksi dan contoh dari cara mengajar yang bagus, mendukung model-model belajar yang efektif, mendukung pengetahuan sebagai proses peningkatan proses dan kemampuan, dukungan dari pemerintah untuk membangun jaringan ICT untuk pendidikan, dan mendorong para guru untuk mengembangkan penggunaan VTR dalam pengembangan keprofesionalannya.