Senin, 17 Oktober 2011

WAWASAN TENTANG STRATEGI DAN APLIKASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KOMPETENSI


Oleh: Marsigit
Reviewed by: Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY

                The dynamical development of Indonesia currently, demand that the curriculum development need to pay attention for: the newest issues at the education world, the issues that emerge in the real activity, various school, education staff, willing and ability of the student, and also demand of social development, science and technology.
                The main problem on the process of learning mathematics is appropriate with the aim, the way to achieve this aim and how to know that the aim was achieved. So the syllabus of mathematics learning need to be arrange in order to make it was completely contained the board outline of learning content which is refer to the characteristic of mathematics that appropriate with the competence will be achieved.
The school mathematics characteristics
The school mathematics characteristics are (Ebbut and Straker, 1995:10-63): mathematics as the connection and pattern investigation activity, mathematics as creativity which is need imagination, intuition and invention, mathematics as a problem solving activity, mathematics as communication tools.
The learning mathematics characteristics of the student
The learning mathematics characteristics of the student are (Ebbut and Straker, 1995:60-75): the students will learn mathematics if they have a motivation, the students will learn with their own ways, the student will learn mathematics individually and also through collaboration with their classmates, the student need different context and situation on the process of learning mathematics.
Syllabus  
The format of syllabus are the form that contain of the standard competence, the basic competence, the content of learning, the elaboration of the learning material, the student learning experience, the allocation of times and the source that will be used.
Determining the material and its elaboration
For all level of education, the material of learning mathematics is consists of (Ebbut and Straker, 1995): facts, concepts, reasoning skill, algorithm skill, problem solving of mathematics skill, and also investigation skill.

PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU MATEMATIKA MELALUI MODEL-MODEL PEMBELAJARAN, LESSON STUDY DAN PTK MELALUI PENINGKATAN PERAN MGMP


Oleh: Marsigit
Reviewed by: Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY

                The development of competence became a demand for the teacher since the development on education world was going on. So, to run their role maximally and produce a high achievement of learning the development of teacher competence should be appropriate with the dynamically of education world. The development of teacher competence can be done through various models of learning, lesson study and increasing the role of MGMP.
Developing teacher competence through various model of learning
As a mathematics teacher, they need to do an innovation that can produce a learning method which appropriate with the currently trend on the education sector. The one of ways that can be used by the teacher to perfecting the model of learning are by doing classical research. By doing this classical research the teacher can analyze and increase their teaching style aspect, and also learning about teaching skill for special student.
Developing teacher competence through lesson study
Lesson study is the one of ways to develop teacher competence with international conception. At an international level lesson study became the one of methods that used to develop teacher competence, which is the lecturer, education expert and teacher from various country collaborate doing research, and discuss about how to produce good method for teaching learning process.
Developing teacher competence through maximize the rule of MGMP
MGMP has a strategic rule for the development of teacher profession. To optimize this rule of MGMP, its need to be developed a visionary paradigm that is a view which is could transforming from the old paradigm to prepare the future and also to compete the fact of having fallen behind. Some points of new paradigms are describes that on the MGMP organization should be developed such as:
1.       sense of connectivity, a systemic organization that can be a connection among stake holder of mathematics education
2.       sense of service, be able to give a response for the needed of their members development
3.       sense of innovation, can be a pioneer who was implement the new paradigm of education
4.       sense of mobility, the needed of MGMP development to be supported by informatics technology and communication.

“Looking for Alternative Model in reference to Japan Educational Experiences” MATH PROGRAM FOR INTERNATIONAL COORPERATION IN INDONESIA


By: Marsigit
Reviewed by: Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY

 
                Kondisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini masih memperlihatkan adanya dominasi gru dalam proses pembelajaran. Di dalam proses pembelajaran waktu lebih banya digunakan oleh guru untuk menjelaskan dan mentrasfer informasi kepada murid tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan kreatifitas berfikirnya, siswa hanya sekedar duduk diam dan mendenganrkan apa yang dijelaskan oleh guru. Media pembelajaran yang ada seperti papan tulis tidak dimanfaatkan semestinya sebagai alat untuk membantu siswa membangun pengetahuan mereka sendiri tetapi lebih banyak digunakan sebagai area guru mendiskripsikan informasi yang akan disampaikan kepada siswa. Padahal tuntutan dunia pendidikan di masa yang akan dating adalah kemampuan siswa untuk berfikir tingkat tinggi, jika metode yang digunakan oleh guru masih bertahan pada metode dimana guru sebagai pusat yang mendominasi kegiatan pembelajaran maka siswa tidak akan mampu mencapai tahap berfikir tingkat tinggi.
                Beberapa hambatan yang dihadapi dalam usaha untuk memajukan perubahan dibidang pendidikan di Indonesia diantaranya adalah: lingkungan pendidikan yang terlalu kompleks, keterbatasan anggaran biaya, kurangnya fasilitas dan sumber pendidikan, kondisi pendidikan yang berbeda-beda seperti suku, wilayah, budaya dan nilai, kurangnya pemahaman guru tentang teori pembelajran yang baik dan bagaiman untuk menerapkannya, pengembangan pendidikan yang setengah-setengah, diantara berbasis pada hakekat dari ilmu pengetahuan dan pendidikan atau berdasar pada kebutuhan akan kemampuan berkompetensi di era global.
Pendidikan di Indonesia
                Pembelajaran matematika di Indonesia sekarang ini manunjukkan bahwa pencapaian siswa pada mata pelajaran matematika dan IPA masih rendah, hal ini berdasarkan pada hasil ujian nasionala dari tahun ke tahun baik di tingkat pendidikan dasar maupun tingkat pendidikan menengah. Hal ini di sebabkan oleh banyak factor baik dari metode yang digunakan yang berimplikasi pada kualitas pembelajaran maupun kualifikasi kemampuan dari guru itu sendiri.
Alternatif model pembelajaran berdasarkan pada pengalaman Jepang 
                Setelah perang dunia ke dua pemerintah Jepang mengambil kebijakan untuk menyusun system penerbitan buku teks untuk sekolah, dimana buku-buku yang akan digunakan dalam proses pembelajaran harus melalui proses sensor. Selain itu seseorang yang akan menjadi guru harus memiliki lisensi, lisensi ini akan berlaku seumur hidup dan bukan merupakan lisensi yang memerlukan proses perpanjangan. Masing-masing sekolah memiliki beragam aktivitas yang bertujuan untuk memperbaiki kemampuan mengajar guru (Nishitani,2002) diantaranya adalah: (a) beberapa sekolah memperkenalkan kelas mereka kepada masyarakat, hal ini menjadikan banyaknya guru yang mengunjungi sekolah tersebut dan melihat berlangsungnya kelas kemudian berdiskusi, (b) setiap sekolah dasar memiliki kelas penelitian dimana beberapa guru dapat memperlihatkan berlangsungnya kelas mereka kepada guru yang lain, kemudian setelah kelas berakhir semua guru yang tadi melakukan pengamatan berdiskusi tentang kelas yang mereka amati, (c) setiap sekolah memperkenalkan kelas mereka kepada masyarakat beberapa kali dalam setahun sehingga banyak orang tua siswa yang mengunjungi sekolah dan melihat anaknya belajar, (d) ada banyak kesempatan bagi guru untuk mengikuti pelatihan yang disediakan oleh lembaga pemerhati pendidikan dan universitas. Sedangkan pengembangan strategi yang dilakukan oleh guru meliputi: pembelajaran konsep dasar, memahami masalah, harapan, memecahkan masalah, merangkum isi dari pembelajaran, dan mengaplikasikan isi dari pembelajaran.

GOOD PRACTICE OF MATHEMATICS TEACHING THROUGH LESSON STUDY AND TEACHERS PROFESIONAL DEVELOPMENT


By: Marsigit
Reviewed by: Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY
               
                Berdasarkan peraturan menteri nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006 , telah ditetapkan bahwa mulai tahun 2006 pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mulai menerapkan kurikulum baru untuk pendidikan dasar dan menengah yang disebut dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Kurikulum tingkat satuan pendidikan ini mengkombinasikan dua paradigma pendidikan yaitu penekanan pada kompetensi siswa dan penekanan pada proses yang dilalui siswa dalam kegiatan pembelajaran. Garis-garis besar dari kurikulum matematika yang juga menjadi tujuan dari pembelajaran matematika berdasarkan KTSP antara lain:
1.       Memahami konsep matematika, menjelaskan hubungan antar konsep dan mengaplikasikannya dalam penyelesaian masalah secara tepat dan efisien.
2.       Mengembangkan keterampilan berfikir dalam mempelajari pola dan karakteristik matematika, memanipulasi pola dan karakteristik tersebut untuk menarik kesimpulan, membuktikan dan menjelaskan ide dan dalil-dalil yang ada dalam matematika.
3.       Mengambangkan kemampuan pemecahan masalah yang diperlihatakan dengan kemampuan memahami masalah, memodelkan permasalahan ke dalam bentuk matematika, menyelesaikan model matematika dan memperkirakan hasil yang akan diperoleh.
4.       Mengkomunikasikan ide matematika dengan menggunkana simbol, tabel, diagram dna media lainnya.
5.       Mengembangakan apersepsi yang berkaitan dengan penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari, keingintahuan, pertimbangan dan untuk mengembangkan kemauan belajar matematika.
Di dalam pengaplikasian kurikulum baru ini tentunya akan menuntuk perubahan juga baik dari pihak guru, pakar pendidikan dan juga dosen dalam mengembangkan metode pembelajaran yang dapat membuat tujuan dari pengaplikasian KTSP ini dicapai dengan baik. Untuk menghadapi tuntutan perubahan ini maka salah satu cara yang dilakukan adalah dengan lesson study yaitu kerjasama antara guru, dosen dan pakar pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran disekolah, melalui kegiatan observasi, refleksi , evaluasi dan inovasi. Pendekatan dari kegiatan lesson study ini diantaranya: mengembangakan kerjasama antar siswa dalam kegiatan pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang kontekstual, salah satu tujuan pembelajaran adalah agar siswa memiliki kecakapan hidup, lebih menekankan pada aktivitas pembelajaran, proses pengembangan kurikulum dan silabuas yang interaktif dan pemberian otonomi pada guru dan juga siswa.