Senin, 17 Oktober 2011

Commentary on the Video Tape Recorder: REFLECTION ON THE TEACHING OF “THE MULTIPLICATION ALGORITHM OF THE 3rd GRADE OF PRIMARY SCHOOL” TRHOUGH VTR


By: Marsigit
Stase University of Yogyakarta, Indonesia
Reviewed by : Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY

 

                Sekarang ini, penggunaan VTR (Video Tape Recorder) sebagai salah alat yang digunakan dalam pelatihan guru di Indonesia telah dapat diterima dengan baik dan dirasakan manfaatnya. VTR untuk pendidikan guru dan perubahan dalam dunia pendidikan matematika memiliki beberapa keuntungan diantaranya: sebagai rangkuman singkat dari kegiatan pembelajaran dengan penekanan pada masalah utama dari kegiatan pembelajaran tersebut, mengetahui komponendari pembelajaran dan kejadian-kejadian penting di dalam kelas, adanya beberapa hal yang bisa didiskusikan dan direfleksikan dengan cara guru mengobservasi kegiatan pembelajaran melalui berdasarkan VTR (Isoda,M.,2006).
                Katagiri, S (2004) menuliskan beberapa tipe dari berfikir matematis diantaranya, pemikiran matematis sebagai sikap matematis, pemikiran matematis yang dihubungkan dengan metode matematis, dan pemikiran matematika yang berhubungan dengan isi atau materi dai matematika itu sendiri. Ketiga tipe dari pemikiran matematis ini dapat menjadi titik tumpu untuk merefleksikan kegiatan belajar mengajar di sekolah, seperti untuk merefleksikan pengajaran materi algoritma perkalian untuk siswa SD kelas 3 yang dilakukan oleh Hideyuki Muramoto seperti yang diuraikan di bawah ini:
Mengkarakteristikkan  Pembelajaran berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Karakteristik dari kegiatan persiapan yang dilakukan oleh Muramoto adalah menetapkan beberapa hal pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusunnya seperti:
1.       Tema: Pengajaran matematika pada siswa SD kelas 3, yang membantu mengembangkan kemampuan siswa untuk menggunakan apa yang telah mereka pelajari sebelum menyelesaikan masalah dan membuat penghubung agar dapat menyelesaikan masalah yang muncul pada situasi belajar yang berbeda.
2.       Metode: Mengajarkan “Algoritma perkalian” dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa agar dapat menggunakan apa yang telah meraka pelajari sebelumnya untuk menyelesaikan masalah yang ada pada situasi belajar yang baru dengan membuat penghubung antara pengetahuan yang sudah dikuasai dengan masalah baru tersebut.
3.       Tujuan Pembelajaran: dapat berfikir bagaimana menyelesaikan perhitungan perkalian antara bilangan yang terdiri dari dua digit dengan bilanga yang terdiri atas satu digit, dengan menggunakan pengetahuan tentang perkalian yang telah mereka miliki.
4.       Skenario Kegiatan Pembelajaran: mengembangkan pembelajaran yang membantu siswa agar memiliki kesadaran untuk mengkoneksikan antara pengetahuan yang telah dimiliki dan pengetahuan yang sedang mereka pelajari sekarang serta menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki untuk mengungkap hambatan-hambatan yang mereka temui dalam situasi pembelajaran yang baru.  
Mengkarakteristikkan Pembelajran berdasarkan VTR (Video Tape Recording)
1.       Masalah yang berhubungan dengan perekaman video: kualitas gambar yang ditampilkan dalam video cukup bagus, tapi penggunaan satu kamera membuat area yang terekam tidak terlalu luas.
2.       Komponen pembelajaran: penjelasan guru di depan kelas untuk semua siswa mengurangi komplekstivitas interaksi di kelas, antara guru dengan siswa, menyoroti salah satu ide dari seorang siswa dapat menjadi suatu pengabaian terhadap ide dari siswa yang lain.
3.       Mendorong dan mengungkap kemampuan siswa dalam berfikir secara matematis: usaha guru untuk mendorong dan mengungkap pemikiran matematis sudah cukup efektif, usaha guru untuk melayani kebutuhan siswa secara individual belum cukup efektif, sebagian dari siswa sudah dapat melakukan berfikir secara matematis, guru dapat mencapai tujuan dari pembelajaran, pemikiran matematis dari beberapa siswa dapat menjadi contoh bagi siswa yang lainnya, siswa-siswa menjalankan metode yang berbeda-beda walaupun akhirnya mereka menemukan jawaban akhir yang sama, diskusi antar siswa belum terjadi dan keterlibatan siswa dalam manajemen kelas masih terbatas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar