Senin, 17 Oktober 2011

PURSUING GOOD PRACTICE OF SECONDARY MATHEMATICS EDUCATION THROUGH LESSON STUDIES IN INDONESIA


By : Marsigit
Reviewed by : Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY
http:/ridhaestyargarini.blogspot.com



                Berdasarkan pada nilai-nilai kepercayaan dan bukti-bukti empiris, sekarang ini di Indonesia ada tuntutan bahwa perubahan dalam bidang pendidikan harus dapat menangani persoalan-persoalan berikut ini: bagaimana memajukan kurikulum yang interaktif daripada kurikulum yang sekedar sebagai instrument?, bagaimana memajukan pendekatan yang terpusat pada siswa daripada pendekatan yang terpusat pada guru?, bagaimana memajukan inisiasi siswa daripada dominasi guru? Dan bagiman memajukan kurikulum yang sederhana dan fleksibel daripada kurikulum yang rumit?.
                Sementara pada istilah pelaksanaan proses belajar mengajar yang baik dan berdasarkan pada observasi, terdapat tuntutan bahwa guru perlu memiliki kesempatan untuk menggambarkan cara mengajar yang mereka lakukan dalam rangka perubahan dari paradigma lama menuju paradigma baru tentang proses belajar mengajar. Mereka barangkali merubah dari penekanan pada kata mengajar menjadi lebih menekankan pada kata belajar, mereka barangkali merubah kegiatan mentransfer pengetahuan dalam kegiatan pembelajaran menjadi mengkonstruksi pengetahuan siswa.
Untuk dapat mengembangkan kecakapan hidup siswa, guru harus menyediakan banyak waktu, kemauan yang keras dan usaha dimana guru dapat memotivasi siswa dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan dan pengalaman belajar mereka.
Sejauh ini kurikulum 1994 yang diterapkan di Indonesia belum dapat memaksimalkan kualitas pendidikan, oleh karena itu dikembangkan suatu kurikulum yang dapat merubah cara pandang dalam proses pembelajaran, dalam hal ini disebutkan dengan mengubah paradigma lama tentang pendidikan menuju pada paradigma baru. Salah satu cara yang ditempuh untuk merubah paradigma ini adalah dengan pelaksanaan Lesson Study yang dilaksanakan oleh para pakar pendidikan, dosen dan guru. Hasil dari kegiatan Lesson Study dapat disimpulkan dari pandangan siswa, guru, dan dosen tentang proses pembelajaran berikut ini:
Guru: Guru merasa kegiatan pembelajaran menjdi lebih hidup, walaupun semua kemajuan itu harus dibayar dengan kerja keras, guru membutuhkan banyak waktu untuk melakukan persiapan, memiliki kemampuan untuk melaksanakan penelitian dan menggunakan alat yang beragam, dapat meningkatkan profesionlitas guru, guru diperkenalkan pada inovasi dalam bidang pembelajaran matematika dan IPA, meningkatkan kreativitas guru, kemampuan komunikasi dan menyampaikan pertanyaan guna merangsang siswa untuk berfikir meningkat dan guru merasa bahwa dengan pelaksanaan Lesson Study ternyata dapat membantu pengimplementasian kurukulum baru yaitu KBK.
                Siswa: respon yang baik ditunjukkan oleh siswa melalui sikap antusias dna keterlibatan siswa dalam kegiatan penelitian dan diskusi, siswa lebih mampu menyampaikan gagasan dan mengkomunikasikan aktivitas matematika mereka, siswa merasa senang selama proses pembelajaran karena sifat pembelajaran yang tidak terlalu formal, isi yang mudah dimengerti, memberikan kesempatan pada mereka untuk menyampaikan ide dan berdiskusi dengan teman mereka.
                Dosen: dapat mengembangkan hal-hal yang diperlukan dalam proses belajar mengajar dan mengetahui masalah yang dihadapi secara langsung oleh guru di kelas, dapat mengembangkan ide kreatif untuk menemukan metode pembelajaran yang lebih baik.

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU ADMINISTRASI PERKANTORAN KOTA YOGYAKARTA MELALUI LESSON STUDY


Oleh: Marsigit
Reviewed by: RidhaEsty Argarini/P.Matsub’09/UNY


                Lesson study is collaboration among teachers as an effort to increase their ability to run the teaching learning process through doing observation and reflect it systematic. The aim of lesson study is to increase the serving of the teacher to the student needed. The main essential point of lesson study is the collaboration among teacher or teacher and lecturer to observe, investigate and reflecting learning activity. The steps to do lesson plan are:
1.       Planning, the teacher collaborating to arrange a lesson plan.
2.       Application, the teacher was doing teaching learning process at the real class, while the other teachers are doing observation.
3.       Reflection and Improvement I, the teachers and also the lectures were doing discussion.
4.       Reflection and Improvement II, the other teacher was doing teaching learning activity, while the other one was preparing to do an observation.
Lesson study was done to produce an innovation on the education through improving teaching learning process, the relevant paradigm are such: student centered, constructivist approach, realistic approach, contextual teaching learning. Innovation through lesson study could be done if: the teachers have open minded thinking and high commitment, there are developments of encourage system, done by all of component, get a support form the government, as a long time or middle innovation not just as a little bite innovation.
        Lesson study could be an instrument that encourage the currently use curriculum that is school base competence curriculum because: lesson study are guided by the competence would be achieved by the student, lesson study need an investigation and the development of curriculum, syllabus and lesson plan, lesson study encourage the development of aids and education media, lesson study need a development of student’s worksheet.
        Lesson plan is the backbone of lesson study, and so it’s should be: serving the needed of the student to learn, reflecting the student activity, various interaction, various media, various teaching method, the scheme of competence achievement, the development of evaluation, as an communication tools, reflecting the innovation, encourage collaboration learning, was completed by encourage document, there are always revision and the last one lesson plan is as an observation tools.

Commentary on the Video Tape Recorder: REFLECTION ON THE TEACHING OF “THE MULTIPLICATION ALGORITHM OF THE 3rd GRADE OF PRIMARY SCHOOL” TRHOUGH VTR


By: Marsigit
Stase University of Yogyakarta, Indonesia
Reviewed by : Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY

 

                Sekarang ini, penggunaan VTR (Video Tape Recorder) sebagai salah alat yang digunakan dalam pelatihan guru di Indonesia telah dapat diterima dengan baik dan dirasakan manfaatnya. VTR untuk pendidikan guru dan perubahan dalam dunia pendidikan matematika memiliki beberapa keuntungan diantaranya: sebagai rangkuman singkat dari kegiatan pembelajaran dengan penekanan pada masalah utama dari kegiatan pembelajaran tersebut, mengetahui komponendari pembelajaran dan kejadian-kejadian penting di dalam kelas, adanya beberapa hal yang bisa didiskusikan dan direfleksikan dengan cara guru mengobservasi kegiatan pembelajaran melalui berdasarkan VTR (Isoda,M.,2006).
                Katagiri, S (2004) menuliskan beberapa tipe dari berfikir matematis diantaranya, pemikiran matematis sebagai sikap matematis, pemikiran matematis yang dihubungkan dengan metode matematis, dan pemikiran matematika yang berhubungan dengan isi atau materi dai matematika itu sendiri. Ketiga tipe dari pemikiran matematis ini dapat menjadi titik tumpu untuk merefleksikan kegiatan belajar mengajar di sekolah, seperti untuk merefleksikan pengajaran materi algoritma perkalian untuk siswa SD kelas 3 yang dilakukan oleh Hideyuki Muramoto seperti yang diuraikan di bawah ini:
Mengkarakteristikkan  Pembelajaran berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Karakteristik dari kegiatan persiapan yang dilakukan oleh Muramoto adalah menetapkan beberapa hal pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusunnya seperti:
1.       Tema: Pengajaran matematika pada siswa SD kelas 3, yang membantu mengembangkan kemampuan siswa untuk menggunakan apa yang telah mereka pelajari sebelum menyelesaikan masalah dan membuat penghubung agar dapat menyelesaikan masalah yang muncul pada situasi belajar yang berbeda.
2.       Metode: Mengajarkan “Algoritma perkalian” dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa agar dapat menggunakan apa yang telah meraka pelajari sebelumnya untuk menyelesaikan masalah yang ada pada situasi belajar yang baru dengan membuat penghubung antara pengetahuan yang sudah dikuasai dengan masalah baru tersebut.
3.       Tujuan Pembelajaran: dapat berfikir bagaimana menyelesaikan perhitungan perkalian antara bilangan yang terdiri dari dua digit dengan bilanga yang terdiri atas satu digit, dengan menggunakan pengetahuan tentang perkalian yang telah mereka miliki.
4.       Skenario Kegiatan Pembelajaran: mengembangkan pembelajaran yang membantu siswa agar memiliki kesadaran untuk mengkoneksikan antara pengetahuan yang telah dimiliki dan pengetahuan yang sedang mereka pelajari sekarang serta menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki untuk mengungkap hambatan-hambatan yang mereka temui dalam situasi pembelajaran yang baru.  
Mengkarakteristikkan Pembelajran berdasarkan VTR (Video Tape Recording)
1.       Masalah yang berhubungan dengan perekaman video: kualitas gambar yang ditampilkan dalam video cukup bagus, tapi penggunaan satu kamera membuat area yang terekam tidak terlalu luas.
2.       Komponen pembelajaran: penjelasan guru di depan kelas untuk semua siswa mengurangi komplekstivitas interaksi di kelas, antara guru dengan siswa, menyoroti salah satu ide dari seorang siswa dapat menjadi suatu pengabaian terhadap ide dari siswa yang lain.
3.       Mendorong dan mengungkap kemampuan siswa dalam berfikir secara matematis: usaha guru untuk mendorong dan mengungkap pemikiran matematis sudah cukup efektif, usaha guru untuk melayani kebutuhan siswa secara individual belum cukup efektif, sebagian dari siswa sudah dapat melakukan berfikir secara matematis, guru dapat mencapai tujuan dari pembelajaran, pemikiran matematis dari beberapa siswa dapat menjadi contoh bagi siswa yang lainnya, siswa-siswa menjalankan metode yang berbeda-beda walaupun akhirnya mereka menemukan jawaban akhir yang sama, diskusi antar siswa belum terjadi dan keterlibatan siswa dalam manajemen kelas masih terbatas.

Asumsi Dasar Karakteristik Matematika, Subjek Didik dan Belajar Matematika Sebagai Dasar Pengembangan Kurikulum Matematika Berbasis Kompetensi di SMP


Oleh: Marsigit
Reviewed by: Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY


                In order to following the movement of education paradigm, Indonesian government has been developing a new kind of curriculum for national education called base competence curriculum. To develop this new kind of curriculum it’s also need to develop some kind of things which is including on the part of curriculum for example is syllabus, at least there are six kinds of things that should be noticed to develop syllabus such as: a chance to all pupils to learn, curriculum not only as a collection of the learning content but also be able to reflect the teaching learning process coherently, the learning of mathematics need an understanding about the needed of student learning, the readiness of the student to learn and serving the learning facilities, give a chance for the student to learn mathematics actively to construct their concept structure through their knowledge and their experience, the needed of assessment to increase the learning quality, the using of various strategy and learning method as flexible and dynamic which is appropriate with the content, the pupil and the context of learning.
                The main issues are how to make the plans, the developments and the implementations of curriculum appropriate with the wish of learning activity. To answer this issues so on the section of planning and developing process should be pay attention on: the directive to developing syllabus, the technique hint of curriculum application which was developed, the curriculum supporter such book, learning facilities and the ability of the teacher, the involvement of the teacher on the planning and developing of curriculum process, the needed of socialization about curriculum development to stake holder and also the needed of continue evaluation to the application of curriculum.
                In order to produce the innovation demand of education generally, Ebbut and Straker (1995:10-63) define school mathematics as: mathematics as the connection and pattern investigation activity, mathematics as creativity which is need imagination, intuition and invention, mathematics as a problem solving activity, mathematics as communication tools.