Refleksi Perkuliahan
Filsafat Pendidikan Matematika
Nama : Ridha Esty Argarini
NIM : 09301241008
Prodi : Pendidikan Matematika
2009
Berfilsafat adalah olah pikir, oleh pikir yang dapat
dilakukan sendiri ataupun bersama-sama Berfilsafat harus menggunakan referensi,
referensinya adalah pikiran para filsuf, oleh karena itu membaca pikiran para
filsuf dengan membaca karya-karyanya adalah penting.
Macam-macam filsafat dapat dibedakan tergantung dari
objeknya, objek dari filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Akan tetapi
obyek ini dapat dipersempit lagi. Pada jaman Yunani kuno orang berpikir
mengenai segala sesuatu terbuat dari apa, bumi terbuat dari apa, bulan terbuat
dari apa, tanah terbuat dari apa. Jika obyeknya adalah tentang diri manusia
maka filsafat itu adalah filsafat manusia. Jika obyeknya mengenai hal-hal yang
berkatian dengan spiritual filsafatnya adalah filsafat spiritual atau
teologi atau disebut juga sebagai filsafat
ketuhanan.
Filsafat membagi menjadi obyek menjadi dua macam yaitu
obyek yang ada di dalam pikiran dan obyek yang ada di luar pikiran. Yang dapat
dilihat, dapat didengar, dan yang dapat diraba itu merupakan obyek di luar pikiran.
Tetapi jika memejamkan mata maka yang dilakukan adalah memasukkan obyek-obyek
tersebut dalam pikiran. Misalkan, jika melihat handphone maka obyek handphone
tersebut berada di luar pikiran, tetapi ketika memejamkan mata dan masih
mengingat bentuk handphone maka yang telah dilakukan adalah memasukkan handphone
ke dalam pikiran, sehingga handphone yang ada dalam pikiran tersebut memiliki
sifat ideal atau dapat dikatakan bersifat tetap , dalam hal ini obyek yang
diluar pikiran sifatnya adalah berubah. Yang didalam pikiran atau tetap
tokohnya adalah Plato sedangkan yang diluar pikiran atau berubah tokohnya adalah Aristoteles. Obyek pikir yang diluar
pikiran menghasilkan filsafat yang bernama realism sedangkan yang berada di dalam pikiran menghasilkan
filsafat yang disebut dialeg.
Berdasarkan banyak obyek filasafat disebut monoisme
apabila obyeknya banyaknya adalah satu, monoisme jika obyeknya dua dan
pluralism jika obyeknya banyak. Obyeknya satu atau disebut juga monism itu
maksudnya adalah yang benar satu, dan yang benar satu itu merefer pada kausa
prima yaitu Tuhan. Sehingga aliran filsafat dapat berasal dari dimana obyeknya,
macam-macam obyeknya lokasi obyeknya, dan karakteristik obyek.
Sejarah perkembangan filsafat sampai pada filsafat
modern dan filsafat kontemporer. Setiap yang ada dan yang mungkin ada itu mempunyai
filsafatnya, karena hal tersebut merupakan urusan dunia. Termasuk dalam urusan
manusia karena keterbatasan pikiran manusia ketrbatasan ini sekaligus menjadi
rahmat dari Tuhan. Ketidaksempurnaan manusia membuat manusia bisa membedakan,
contohnya adalah manusia tidak dapat hidup di air karena keterbatasan manusia,
dengan demikian manusia dapat membedakan kondisi di air dengan kondisi di
daratan. Segala yang ada dan yang mungkin ada itu membawa rahmat bagi manusia
jika manusia mampu manggalinya.
Sering disebutkan istilah menembus ruang dan waktu. Menembus
ruang dan waktu jika digambarkan adalah seolah-olah seperti makhluk yang luar
biasa yang super atau mungkin setengah dewa yang bisa menembus ruang dan waktu.
Menembus ruang dan waktu sesungguhnya adalah mengalami perubahan atau melakukan
perubahan. Upaya untuk menembus ruang dan waktu memiliki sifat berdimensi.
Siapa yang menembus ruang dan waktu ? yang menembus ruang dan waktu adalah
subyeknya, subyeknya siapa? subyeknya adalah dirimu atau diriku atau diri yang
lain.
Waktu menurut Immanuel Khant, dikategorikan menjadi 3
macam yaitu waktu yang berurutan, waktu yang berkelanjutan dan waktu yang
berkesatuan. Maksudnya waktu berkesatuan itu adalah waktu tidak dapat
dipisah-pisah. Begitu pula dengan dimensi ruang yang dapat dikategorikan
menjadi bermacam-macam, ada dimensi nol, dimensi satu, dimensi dua, dimensi tiga,
dan seterusnya, tetapi ini adalah teori atau aksioma dari ruang. Dalam kenyataanya yang sebuah tempat yang
sedang ditempati seseorang adalah juga ruang.
Dengan bahasa analog dapat dikatakan ruang itu adalah
pikiran. Ruang meliputi yang ada dan yang mungkin ada, jadi setiap yang ada dan
yang mungkin ada itu mempunyai ruangnya masing-masing. Ruang terdiri dari wadah
dan isi, maka segala yang ada dan yang mungkin ada itu pasti memiliki wadahnya.
Tanpa wadah maka tidak akan ada isi dan tanpa isi maka tidak akan ditemukan
wadah. Untuk dapat mengetaui ruang, ternyata harus mengetahui waktu. Demikian
juga untuk mengetahui waktu maka harus mengetahui ruang. Karena sebenar-benar
ruang dan sebenar-benar waktu itu hanya di dalam pikiran atau dapat dikatakan
hanya merupakan sebuah intuisi. Agar bisa memahami ruang yang digunakan adalah
intuisi, dan tidak menggunakan definisi. Definisi diperlukan tetapi hanya sebagai pertolongan, karena pada
akhirnya ruang bisa ditemukan karena intuisi.
Ruang dibuat mulai dari material, formal, normatif dan
spiritual. Material adalah bentuk fisiknya, contohnya adalah tampilan manusia
masing-masing. Formal adalah yang ditulis secara resmi. Yang material adalah
yang konkrit sedangkan normatif adalah ilmunya. Contoh dari normatif adalah
baik buruk, tata karma dan aturan. Berdasarkan hal ini, telah ditemukan empat
ruang secara hierarki.
Segala
sesuatu yang ada dan yang mungkin ada itu meiliki ruangnya msing-masing
sehingga dapat diciptakan ruang yang lain. Mamahami ruang dimensi nol, dimensi
dua, dimensi tiga hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mampu memikirkannya,
anak kecil belum mampu memikirkannya. Karena untukmemahami ruang tersebut tidak
menggunakan cara intuitif tetapi menggunakan bentuk-bentuk formal atau aksiomatik.
Orang yang berilmu dalam pendidikan matematika adalah
orang yang sopan dan santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada di dalam
pendidikan matematika. Santun itu berarti mengerti, menghayati, memahami
kamudian merefleksikan.
Sistem telah menempatkan spiritual pada tingkat paling
atas, sebagai hal yang pokok dan sebagai pedoman. Tidak ada satu unsur pun
dalam hidup ini yang terbebas dari unsur spiritual. Disisi lain yang dihadapi
adalah gejolak dunia yang merupakan pengaruh dari globalisasi yaitu pengaruh
dari sang power now. Power now memiliki empat ujung tombak yaitu kapitalisme,
fragmatisme, utilitarian dan hedonisme. Kapitalisme artinya segala sesuatunya
diukur dari laju perubahan ekonomi. Utilitarian artinya segala sesuatu diukur
dari sisi manfaat. Fragmatisme menghasilkan budaya serba cepat, praktis dan
anti filsafat. Hedonisme merupakan limbah yang disebabakan oleh kapitalisme,
sehingga seseorang hanya mengejar rasa senang dan kenikmatan dunia sehingga
lupa dengan norma-norma agama.
Power now menciptakan dunia mereka yang tingkatannya dari
bawah adalah arkaek, tribal, tradisonal, feodal, modern, post modern, post post
modern. Agama diletakkan di tengah yaitu di tradisional, maka orang beragama
bagi dunia barat adalah kelompok yang kurang favorit.
Ruang itu juga merupakan salah satu bentuk dari
kategori atau klasifikasi. Bentuk material dari manusia adalah tubuhnya atau
bagian fisiknya, bentuk formal dari manusia adalah karya-karyanya, dan bentuk
normative dari manusia adalah ilmu atau pikirannya. Jadi sebenar-benar diriku
secara normatif adalah pikiran, sedangkan diriku secara spiritual adalah
doa-doa atau amal.
Menembus ruang dan waktu itu tergantung pada apa yang
dimaksud apakah materialnya, formalnya, normatifnya atau spiritualnya. Contohnya
seorang dosen, namanya sampai pada meja menteri, maka secara formal telah menembus
ruang dan waktu. Secara material bahkan, batu pun dapat menembus ruang dan
waktu, karena batu tidak dapat terbebas dari hukum perubahan menembus ruang dan
waktu, karena batu pun mengalami hari Senin, hari Selasa, dan seterusnya.
Menembus ruang dan waktu merupakan hal yang berdimensi dan mengikuti yang ada
dan yang mungkin ada. Sebenar-benar manusia secara material formal tidaklah
memiliki hal yang sama. Menembus ruang dan
waktu antara manusia satu dengan manusia yang lain secara formal dan material
adalah berbeda-beda.
Menembus ruang dan waktu dilakukan dengan menggunakan
metode yang ada dalam pikiran subyeknya, contohnya adalah bagaimana sebuah batu
permata dipakai oleh seseorang yang masuk ke istana, sehingga batu tersebut
telah menembus ruang dan waktu metodenya adalah dengan menempel pada tangan
seseorang.
Berikutnya yang perlu dipahami berkaitan dengan
menembus ruang dan waktu adalah fenomenologi, fundasionalisme dan
antifundasionalisme. Fenomenologi adalah karya cipta, filsuf yang bernama
Husserl, dasarnya ada dua yaitu abstraksi dan idealisasi. Abstraksi yaitu
memilih atau reduksi dan idealisasi adalah menganggap sempurna. Kodrat manusia
adalah reduksi. Maka hidup itu adalah pilihan. Disamping memiliki potensi untuk
memilih manusia juga terpilih oleh Tuhan. Manusia adalah makhluk yang memiliki
keterbatasan, contohnya manusia tidak adil terhadap obyek yang ada di belakang
kepalanya, karena tidak pernah dilihat. Sehingga filsafatnya disebut dengan
reduksionism atau terpilih.
Semua yang tidak dapat dipikirkan, dan tidak dapat
dijangkau oleh pikiran manusia tinggal di rumah epoke, sehingga semua yang
tidak dipikirkan oleh manusia berarti telah dimasukkan pada rumah epoke. Hal
ini dapat digunakan sebagai kesempatan untuk belajar, misal belajar tentang
segitiga, maka tidak perlu dipikirkan segitiga berwarna merah, atau yang
lainnya yang terpenting adalah besaran dan ukurannya saja sisanya ditaruh pada
rumah epoke.
Berikutnya adalah mengenai fundasionalisme. Semua
makhluk beragama adalah kaum fundasionalisme, karena semua orang beragama telah
menetapkan Tuhan sebagai kausa prima yaitu sebab dari segala sebab. Tidak ada
sebab lain yang mendahuluinya. Kaum fundasionalisme mempunyai fondasi, fondasinya
adalah permulaan. Hakikat manusia adalah fundasionalisme, tetapi itu baru
separuhnya, karena semua manusia mempunyai keterbatasan, sehingga sebagian
besar manusia tidak mampu mengenali banyak permulaan.
Tidak ada orang di dunia ini yang mampu mangatakan
sejak kapan dia mengenal besar dan kecil ini merupakan salah satu contoh dari
antifundasionalism, filsafatnya disebut antifundasionalisme. Dalam
antifundasionalisme tidak dibutuhkan definisi serta tidak memiliki permulaan. Inilah
yang kemudian disebut dengan intuisi, atau intuisionisme. Intuisi terjadi dan
orang tidak menyadarinya. Intuisi adala ruh yang dimiliki anak kecil, karena
anak kecil belajar melalui intuisi bukan dari definisi. Contohnya adalah angka
dua, bilangan dua adalah intuisi karena sejak seorang anak lahir ia sudah
megetahui bahwa tangannya dua,
telinganya dua, lubang hidungnya dua, hal ini sudah cukup untuk memberikan
pemahaman pada anak tentang dua. Hal-hal seperti ini tekadang dilupakan oleh
guru, sehingga dalam matematika sering kali yang tejadi adalah permasalahan
datang bukan dari anak tapi dari orang dewasa yang telah kehilangan intuisi dan
selalu menggunakan definisi.
Untuk memahami hakekat diperlukan kesadaran, sehingga
seseorang harus cukup sadar untuk dapat memahami. Saat ini moral yang tidak
baik seperti korupsi dan lain sebagainya muncul dikarenakan intuisi yang hilang
dan sudah terpengaruh oleh kapitalisme atau power now. Manfaat dari belajar
filsafat salah satunya adalah untuk merebut kembali intuisi yang telah hilang,
Intuisi matematika bagi anak adalah kegiatan, atau aktivitas yang dilakukan
oleh anak.
Agar dapat mampu secara efektif dan secara profesional
menembus ruang dan waktu maka bekalnya adalah fenomenologi, abstraksi,
idealisasi, kemudian kesadaran akan fundasionalisme, karena pada prinsipnya semua
manusia adalah fundasionalisme tetapi juga sekaligus antifundasionalisme. Inilah
yang disebut bahwa hidup adalah kontradiksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar