Refleksi Perkuliahan ke-1
Nama :Ridha Esty Argarini
NIM :09301241008
Prodi : Pendidikan Matematika
2009
Filsafat pendidikan matematika merupakan perpaduan antara filsafat dan
pendidikan matematika. Sehingga sebelum mempelajari lebih jauh tentang filsafat
pendidikan matematika, maka harus mengetahui terlebih dahulu tentang apa itu
filsafat. Filsafat adalah olah pikir refleksif, sehingga yang dilakukan pada
saat berfilsafat adalah berfikir.
Berfilsafat sama dengan mengikuti terminologi dunia,
dengan kata dunia kita dapat meletakkan dunia di depan kata apapun misal dunia
listrik, dunia wanita, dunia pendidikan. Demikian juga filsafat, kata filsafat
dapat diletakkan di depan kata apapun, misalnya filsafat pendidikan, hal ini
karena filsafat adalah olah pikir. Karena filsatfat adalah oleh pikir maka
manusia dapat memikirkan apapun, termasuk juga memikirkan tentang Tuhan, walaupun
terbatas. Akan tetapi dalam berfilsafat juga harus hati-hati karena berfilsafat
itu ada adabnya atau tata cara.
Berbicara mengenai adab, adalah berbicara mengenai tata cara. Karena
filsafat adalah ilmu yang multi muka , yaitu ilmu yang dekat dengan diri kita
akan tetapi bisa sangat jauh, bisa sangat berat akan tetapi bisa juga sangat
ringan, bisa mneghibur akan tetapi bisa juga berbahaya. Maka untuk
mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, perlu dipahami sedini mungkin
bahwa mempelajari filsafat adalah belajar mengenai tata cara atau tentang adab.
Sama halnya ketika akan beribadah, tentu ada tata cara atau adabnya. Orang yang
memperhatikan tata cara disebut sebagai orang yang beradab dan lawan dari
beradab adalah biadab yaitu orang yang tidak mengenal dan mengerti tata cara.
Filsafat dapat didefinisikan sebagai banyak hal atau
lebih ekstrimnya dapat didefinisikan sebagai apapun seperti halnya kata
filsafat yang dapat di letakkan di depan kata apapun. Ketika mengikuti
pembelajaran filsafat maka sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah mencari
tata cara berfilsafat atau adabnya orang berfilsafat.
Adab yang pertama dan utama dari berfilsafat adalah
memahami bahwa filsafat itu letaknya tinggi, tetapi setinggi-tingginya berfilsafat
tidak boleh melebihi spiritual. Setinggi-tinggi beroleh pikir tetapi tidak oleh
melebihi keyakinan. Maka sebelum berfilsafat, sebaiknya berdoa memohon
pentunjuk dan ampunan dan setelah berfilsafat hendakya bersyukur, mohon petunjuk
dan mohon ampunan pada Tuhan. Jadi
dasarnya adalah secara sepiritual terlebih dahulu, ibarat satu langkah berfilsafat
sepuluh langkah berdoa dua puluh langkah berfilsafat dua puluh langkah berdoa .
Jika pada saat berfilsafat mengalami pikiran yang berat dan membingungkan
berhenti sejenak untuk mohon ampun dan mohon petunjukNya, seperti itulah
seharusnya yang dilakukan saat berfilsafat. Jadi adab yang pertama adalah
kedudukan filsafat dikaitkan dengan spiritual. Harus disadari bahwa untuk
bertemu Tuhan tidak cukup dengan hanya dipikirkan , karena Tuhan itu lewat hati
dan keyakinan , kalau ingin ketemu Tuhan tapi lewat pikiran maka tidak akan
ketemu, begitulah letak berfilasafat atau berolah pikir terhadap keyakinan atau
spiritual yang berkaitan dengan Tuhan. Bahayanya belajar filsafat tidak
dilandasi dengan Tuhan dan spiritual adalah tidak akan dapat mengerti hati dan seluk
beluknya termasuk cinta dan kasih sayang.
Adab yang kedua dari berfilsafat adalah menyadari
bahwa filsafat itu hidup, contohnya: seseorang yang belum selesai menerangkan cinta,
hal ini karena filsafat itu hidup. Karena filsafat itu hidup maka cara mempelajarinya
adalah dengan metode hidup. Jika ingin mengetahui tentang metode hidup, maka
perlu belajar dari kehidupan diluar tentang bagaimana Tuhan mampu menghidupkan
tumbuh-tumbuhan dan manusia serta makhluk lainnya. Metode yang digunakan dalam
berfilsafat adalah metode hidup sedangkan telah dikenal yang namanya hidup
sehat dan hidup yang tidak sehat, hidup yang bahagia ada hidup yang tidak
bahagia, demikian pula filsafat, ada filsafat yang sehat, ada pula filsafat yang
tidak sehat , filsafat yang bahagia dan filsafat yang susah. Tuhan telah
memberikan teladan, tentang bagaimana tumbuh-tumbuhan yang sehat, burung-burung
yang sehat, manusia yang sehat. Untuk berdoa maka diperlukan keadaan yang
sehat, jika dalam keadaan sakit maka ibadah terganggu. Oleh karena itu agar
berfilsafatnya sehat maka perlu diperhatikan tata caranya.
Adab berikutnya adalah bahasa yang dipakai dalam
berfilsafat adalah bahasa analog, bahasa analog adalah bahasa yang tingkatannya
lebih tinggi dari pada sekedar kiasan. Contoh ketika mengatakan hati bisa juga
yang dimaksud adalah tentang keyakinan, tentang spiritual, tentang Tuhan atau
tentang agama. Berbicara pikiran bisa saja yang dimaksud adalah urusan manusia,
urusan dunia, urusan yang tampak. Metode
hidup yang dikenal di dalam filsafat itu berkaitan dengan alat berfilsafat
yaitu bahasa analog, sedangkan obyek berfilsafat adalah apa yang dipelajari
dalam filsafat. Apa yang dipelajari dalam filsafat adalah yang ada dan yang
mungkin ada. Yang mungkin ada adalah yang belum diketahui, yang ada adalah yang
bisa dilihat didengar dipikirkan atau yang sudah diketahui.
Metode hidup yang berkaitan pikiran yaitu urusan
manusia yang disebut terjemah dan diterjemahkan atau aslinya dari bahasa Yunani
yaitu Hermenitica yang berarti berinteraksi tapi refleksif, yaitu interaksi
yang refleksif. Berfilsafat adalah berinteraksi yang refleksif. Maka setiap hal
di dunia ini sifatnya adalah berinteraksi dengan yang lainnya tanpa terkecuali.
Makhluk hidup apapun bahkan materialpun saling terjemah dan menterjemahkan
seperti batu berinteraksi dengan udara, panas dan air, sehingga batu-batu pun
mengalami perubahan.
Adab tentang hidup yang sehat , hidup yang sehat
secara filsafat adalah yang hidup yang harmoni atau hidup yang seimbang antar
unsur-unsurnya. Maka harmoni itu identik dengan hidup bahagia sedangkan hidup
tidak harmoni identik dengan hidup tidak bahagia. Dengan diam, maka hidup tidak
akan harmoni karena diam itu ternyata tidak seimbang, karena sumbunya adalah sumbu
usaha dan sumbu keikhlasan. Keikhlasan dalam usaha yang mengerti aturan-aturan
di dalam kerangka spiritualnya.
Adab selanjutnya adalah membersihkan diri dari
pikiran-pikiran yang mengganggu. Atau menjernihkan pikiran dalam filsafat
disebut sebagai pure atau tidak ada kebencian dan jelas. Berfilsafat bukan
aliran sesat tapi merupakan oleh pikir. Kejernihan memandang kedudukan
filsafat. Adab berikutnya adalah sebenar-benar orang berfilsafat adalah orang
yang brinteraksi refleksif . Yang didalamnya melakukan kegiatan refleksif.
Jika berkaitan dengan kepedulian terhadap ruang dan
waktu, maka adab berfilsafat yang berikutnya dalah sopan santun terhadap ruang
dan waktu yang merupakan sopan santun terhadap yang mungkin ada dan yang sudah
ada. Salah satu contohnya adalah dengan menyadarinya. Adab berikutnya dalam
berfilsafat adalah yang pertama, jika yang dipikirkan adalah orang lain maka
pertanyaanya adalah bagaimana mampu memahaminya. Sedangkan memahami diri
sendiri sangat sulit. Jika itu tentang diri sendiri maka problem filsafat
berikutnya adalah bagaimana mampu menjelaskan kepada orang lain.
Adab berfilsafat selanjutnya adalah berfilsafat itu
dimulai dengan pertanyaan. Filsafat dimulai dengan suatu kekaguman tetapi kagum
bukan dengan hal-hal yang besar, tapi kagum dengan hal-hal yang kecil. Contoh :
suara burung (apa hakikat suara). Berfilsafat artinya harus mampu berangkat
dari hal yang sepele yang dianggap orang bukan hal-hal yang penting. Diantara contoh pertanyaan-pertanyaan
beserta jawaban yang berkaitan dengan filsafat adalah sebagai berikut:
1.
Kenapa kupu-kupu
yang indah berasal dari ulat yang mengerikan?
Jawab: itu merupakan suatu
hukum alam dari ciptaan Tuhan dan sebagai manusia
hanya bisa
mensyukuri.
2.
Bagaimana tumbuhan
mempertahankan habitatnya?
Jawab: Hal ini juga merupakan
hukum alam. Hukum itu berdimensi dari hukum pada
materialnya sampai spiritualnya. Hukum alam berkaitan
dalam ranah pikiran sesuai dengan teori yang dikembangkan oleh ilmu pengetahuan alam, jadi berkaitan
dengan tumbuhan yang mempertahankan habitatnya maka orang biologi yang
menerangkannya. Tetapi jika dipandang secara spiritual, hukum alam itu
merupakan kodratnya.
3.
Apakah guna
berfilsafat untuk mahasiswa pendidikan matematika?
Jawab: Ini sama saja bertanya apa guna berfikir.
Karena filsafat adalah olah pikir
yang
refleksif.
4.
Apa kaitannya
belajar filsafat dengan mempelajari matematika?
Jawab: sama-sama berfikir.
5.
Apa hakikat
rumput yang bergoyang?
Jawab: macam-macam, bisa
saja rumput itu ikut merasa senang, bisa juga dia memuji
kata-kataku,
ada juga mungkin ikut merasa sedih, terserah mau diartikan apa.
6.
Apa hakikat roda
yang berputar?
Jawab: roda yang berputar
hakikatnya adalah bergerak, bergerak itu berubah maka
roda yang berputar itu sesungguhnya menunjukkan
perubahan. Juga menunjukkan ada sesuatu yang tetap, yaitu pusat ya sebagai
pusat jari-jari ya sebagai jari-jari. Maka ketika mengatakan dunia berputar,
yang berputar itu hanya setengah, sisanya tetap. Maka berfilsafat itu adalah
berlaku adil
7.
Apa hakikat
kehilangan?
Jawab: hakikat kehilangan
adalah terlepasnya kuasamu terhadap obyek yang
dimaksud sehingga tidak kuasa lagi menggunakannya.
Hakikat memiliki adalah kuasa menggunakannya. Tetapi satu definisi belumlah cukup,
maka definisi itu bisa kontesktual dan berdimensi. Yang sudah terjadi namanya
takdir dan itu perlu disyukuri walaupun itu merupakan suatu kehilangan karena
itu yang terbaik.
8.
Mengapa dalam menyampaikan matematika yang
sebenarnya mudah menjadi sulit?
Jawab: karena menggunakan
kata menyampaikan, sama juga dengan filsafat, filsafat
tidak disampaikan tetapi dibangun sendiri begitupula
dengan matematika. Mengapa sulit, karena disampaikan.
9.
Apa pentingnya
berfilsafat?
Jawab: sama dengan
pentingnya berfikir.
10. Apakah berfilsafat dapat mempengaruhi keyakinan diri?
Jawab: dibalik, hendaknya
keyakinan diri mempengaruhi orang dalam berfilsafat.
Karena filsafat itu adalah pribadi. Pola pikir
hendaknya diwarnai dengan keyakinan.
11. Apakah hubungan daun-daun yang bergoyang dengan
matematika?
Jawab: Segala sesuatu itu
ada hubungannya, maka setinggi-tinggi hubungan,
serendah-rendah hubungan selembut-lembutnya hubungan adalah sama-sama
dipikirkan. Maka seluruh yang ada itu saling berhubungan, yaitu sama-sama
dipikirkan. Kagum tapi tidak memikirkannya itu namanya mitos. Filsafat itu
adalah musuhnya mitos , dan berfilsafat itu mencari logos (ilmu). Tetapi anak
kecil belajar dengan mitos, bayi tidak mengerti tapi dia melaksanakannya,
contohnya: makan, minum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar