Senin, 07 Januari 2013

Mitos dalam Sudut Pandang Filsafat



Refleksi Perkuliahan
Filsafat Pendidikan Matematika
Nama   : Ridha Esty Argarini
NIM    : 09301241008
Prodi   : Pendidikan Matematika 2009

Kesempatan mempelajarai filsafat berarti pula mempunyai kesempatan untuk melakukan refleksi diri. Filsafat dalam perkuliahan bermakna sebagai wadah berfilsafat sedangkan isi atau substansinya adalah pemahaman, akan tetapi tidak hanya terbatas pada pemahaman tetapi juga implementasi dari segenap aspeknya. Atau seandainya yang dimaksud adalah filsafat matematika, maka yang terjadi adalah implementasi dari matematika menuju hidup. Dan hal ini juga yang terjadi pada disiplin ilmu yang lainnya, tidak hanya pada matematika, karena pada akhirnya yang terjadi adalah harus bisa merefleksikan dan mengimplementasikan sehingga mampu untuk membangun dunianya. Dari sini dapat dikatakan juga bahwa refleksi, implementasi dan membangun dunia dapat dilakukan melalui disiplin ilmu apapun.
Berfilsafat dapat dikatakan juga sebagai kegiatan betransformir antara makro dan mikro.Dunia makro yang dimaksud adalah dunia secara keseluruhan dan secara universal, sedangkang yang dimaksud mikro adalah diriku sendiri, yaitu seseorang yang berfilsafat. Ketika orang Yunani berusaha membongkar atau mengalahkan mitos-mitos maka sesungguhnya hal tersebut juga terjadi pada setiap orang yang berfilsafat yang terkait ruang dan waktu, yaitu mengenai kapan, dimana, dan bagaimana. Walaupun yang terjadi adalah membongkar mitos atau melawan mitos ini tidak berarti bahwa mitos tidak memiliki manfaat sama sekali. Contoh peran mitos pada kehidupan adalah nampak pada anak-anak, karena anak memahami atau mempelajari sesuatu menggunakan mitos. Mitos dapat dipahami sebagai sesuatu yang tidak dipahami maknanya tetapi dilakukan. Hampir semua anak kecil belajar dengan menggunakan mitos, yang artinya dia tidak mengerti maksudnya tetapi melakukannya. Kadangkala mitos muncul sebagai sesuatu yang sangat kuat. Terkadang karena begitu kuatnya suatu mitos muncul, sehingga untuk memikirkannya saja orang-orang sudah tidak berani apalagi berbicara dan betindak yang menyangkut mitos tersebut. Jika pada saat berfilsafat, pembahasan yang dilakukan sudah sampai pada perbatasan antara mitos dan pengetahuan yang sifatnya berhubungan dengan keyakinan, yang penting untuk dilakukan adalah berdoa. Akan tetapi justru di daerah perbatasan inilah banyak sekali ilmu yang dapat diambil.
Berbicara mengenai keyakinan ada hal yang disebut sebagai takdir, yang dapat diyakini sebagai sesuatu hal yang terbaik menurut Tuhan untuk seorang manusia. Ketika seorang manusia memiliki suatu keinginan, dan sudah berusaha keras untuk mencapainya melalui kerja dan doa, maka apapun nanti hasilnya baik gagal maupun berhasil maka itu adalah yang terbaik baginya, yang disebut sebagai takdir. Maka dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak ada sekecil hal apapun yang terjadi pada diri manusia yang tidak memiliki manfaat. Karena bahkan kegagalan pun dapat merupakan suatu yang terbaik yang terjadi pada manusia itu sendiri. Dengan demikian secara spiritual segala hal yang ada dan yang mungkin ada dapat dikatakan sebagai karunia dari Tuhan. Secara psokologi orang mengatakan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
Ranah naumena dalam filsafat, yaitu sesuatu yang tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba dan tidak dapat dipikirkan. Mitos memiliki kaitan dengan intuisi, akan tetapi yang berkaitan dengan intuisi tidak hanya mitos saja, karena logos pun juga memiliki keterkaitan dengan intuisi. Sehingga dapat dikatakan bahwa intuisi merupakan fondasi dari hidup. Perlu untuk ditekankan dan dipahami bahwa untuk seorang anak kecil, sbagian besar dari hidupnya adalah intuisi dan mitos. Intuisi dan mitos ini diperoleh melalui aktivitas dan interaksi.

Pertanyaan:
Bagaimana keterkaitan antara mitos dan intuisi itu terjadi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar