Refleksi Perkuliahan
Filsafat Pendidikan Matematika
Nama : Ridha Esty Argarini
NIM : 09301241008
Prodi : Pendidikan Matematika
2009
Kesempatan mempelajarai filsafat berarti pula
mempunyai kesempatan untuk melakukan refleksi diri. Filsafat dalam perkuliahan
bermakna sebagai wadah berfilsafat sedangkan isi atau substansinya adalah
pemahaman, akan tetapi tidak hanya terbatas pada pemahaman tetapi juga
implementasi dari segenap aspeknya. Atau seandainya yang dimaksud adalah
filsafat matematika, maka yang terjadi adalah implementasi dari matematika
menuju hidup. Dan hal ini juga yang terjadi pada disiplin ilmu yang lainnya,
tidak hanya pada matematika, karena pada akhirnya yang terjadi adalah harus
bisa merefleksikan dan mengimplementasikan sehingga mampu untuk membangun
dunianya. Dari sini dapat dikatakan juga bahwa refleksi, implementasi dan
membangun dunia dapat dilakukan melalui disiplin ilmu apapun.
Berfilsafat dapat dikatakan juga sebagai kegiatan
betransformir antara makro dan mikro.Dunia makro yang dimaksud adalah dunia
secara keseluruhan dan secara universal, sedangkang yang dimaksud mikro adalah
diriku sendiri, yaitu seseorang yang berfilsafat. Ketika orang Yunani berusaha
membongkar atau mengalahkan mitos-mitos maka sesungguhnya hal tersebut juga
terjadi pada setiap orang yang berfilsafat yang terkait ruang dan waktu, yaitu
mengenai kapan, dimana, dan bagaimana. Walaupun yang terjadi adalah membongkar
mitos atau melawan mitos ini tidak berarti bahwa mitos tidak memiliki manfaat
sama sekali. Contoh peran mitos pada kehidupan adalah nampak pada anak-anak,
karena anak memahami atau mempelajari sesuatu menggunakan mitos. Mitos dapat
dipahami sebagai sesuatu yang tidak dipahami maknanya tetapi dilakukan. Hampir
semua anak kecil belajar dengan menggunakan mitos, yang artinya dia tidak
mengerti maksudnya tetapi melakukannya. Kadangkala mitos muncul sebagai sesuatu
yang sangat kuat. Terkadang karena begitu kuatnya suatu mitos muncul, sehingga
untuk memikirkannya saja orang-orang sudah tidak berani apalagi berbicara dan
betindak yang menyangkut mitos tersebut. Jika pada saat berfilsafat, pembahasan
yang dilakukan sudah sampai pada perbatasan antara mitos dan pengetahuan yang
sifatnya berhubungan dengan keyakinan, yang penting untuk dilakukan adalah
berdoa. Akan tetapi justru di daerah perbatasan inilah banyak sekali ilmu yang
dapat diambil.
Berbicara mengenai keyakinan ada hal yang disebut
sebagai takdir, yang dapat diyakini sebagai sesuatu hal yang terbaik menurut
Tuhan untuk seorang manusia. Ketika seorang manusia memiliki suatu keinginan,
dan sudah berusaha keras untuk mencapainya melalui kerja dan doa, maka apapun
nanti hasilnya baik gagal maupun berhasil maka itu adalah yang terbaik baginya,
yang disebut sebagai takdir. Maka dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak ada
sekecil hal apapun yang terjadi pada diri manusia yang tidak memiliki manfaat.
Karena bahkan kegagalan pun dapat merupakan suatu yang terbaik yang terjadi
pada manusia itu sendiri. Dengan demikian secara spiritual segala hal yang ada
dan yang mungkin ada dapat dikatakan sebagai karunia dari Tuhan. Secara
psokologi orang mengatakan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
Ranah naumena dalam filsafat, yaitu sesuatu yang tidak
dapat dilihat, tidak dapat diraba dan tidak dapat dipikirkan. Mitos memiliki
kaitan dengan intuisi, akan tetapi yang berkaitan dengan intuisi tidak hanya
mitos saja, karena logos pun juga memiliki keterkaitan dengan intuisi. Sehingga
dapat dikatakan bahwa intuisi merupakan fondasi dari hidup. Perlu untuk
ditekankan dan dipahami bahwa untuk seorang anak kecil, sbagian besar dari
hidupnya adalah intuisi dan mitos. Intuisi dan mitos ini diperoleh melalui
aktivitas dan interaksi.
Pertanyaan:
Bagaimana keterkaitan antara mitos dan intuisi itu
terjadi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar