Refleksi Perkuliahan ke-2
Filsafat Pendidikan Matematika
Nama : Ridha Esty Argarini
NIM : 09301241008
Prodi : Pendidikan Matematika
2009
Aliran filsafat dapat diberi nama berdasarkan pada
obyeknya, misalnya saja jika obyek filsafat tersebut adalah benda-benda alam
maka filsafatnya adalah benda-benda alam. Filsafat juga bisa diberi nama
berdasarkan pada nama tokohya. Misalnya Heagelianism , adalah Heagel adalah tokoh
yang mengatakan bahwa segala yang ada dan yang mungkin ada itu menyejarah, maka
filsafat sejarah disebut sebagai Heagelian. Nama filsafat ada juga yang
ditentukan dengan sifat, misalnya benda dalam pikir itu sifatnya ideal maka
filsafatnya namanya idealism , ideal artinya tetap . Aliran ini sejalan dengan
Permenides yaitu tetap. Plato adalah tokoh yang pemikirannya sejalan dengan
Permenides. Contohnya yang tetap adalah bilangan, bilangan itu bersifat tetap
dan tidak berubah, apabila masih di dalam pikiran. Tetapi apabila bilangan sudah
di luar pikiran maka bilangan tersebut akan mengikuti yang ada dan yang mungkin
ada atau di sebut sebagai plural. Bilangan lima bersifat plural,karena akan
muncul lima yang besar lima yang kecil, lima yang hijau lima yang kuning lima
yang tebal lima yang tipis dan seterusnya. Maka filsafatnya realis yaitu bersifat
real. Tokohnya adalah Aristoclian.Ada juga aliran filsafat yang diberi nama
sesuai dengan aktifitasnya. Contohnya adalah Socrates yang filsafatnya
diperoleh dengan cara bertanya sehingga filsafatnya diberi nama dialegtisism.
Jika yang benar satu maka filsafatnya monoisme,
monoisme itu tidak lain tidak bukan adalah Tuhan. Tuhan adalah contoh dari
monoisme. Jika yang benar banyak maka hal tersebut menyangkut urusan dunia.
Berbicara mengenai filsafat, filsafat adalah pikiran, maka
pikiran adalah dunia. Pikiran dan dunia itu banyak sehingga termsuk dalam pluralism
. Jika yang benar itu dua maka dualism contohnya adalah baik buruk. Masyarakat
cenderung bersifat dualism contohny adalah pendapat tentang yang boleh dan tidak
boleh, baik dan buruk dan lain sebagainya akan tetapi kurang trampil dalam membuat
penjelasan antara baik dan buruk. Jarak antara yang baik dan buruk dapat
dikatakan remang-remang atau tidak jelas. Daerah yang remang-remang ini menjadi
daerah yang rawan, contohnya adalah rawan terhadap perilaku korup atau korupsi
dan disalah gunakan.
Jika ukuran dari filsafat adalah diriku yang benar, atau
benar menurut diriku maka filsafatnya adalah subyektifism. Tetapi jika mengakui
pendapat orang lain maka filsafatnya disebut sebagai obyektifism. Yang benar
diriku yang disebut sebagai filsafat subyektifism, tidak sesederhana itu
memahaminya. Abstraksi telah dilakukan dengan cara memilih salah satu statement
yang sangat singkat yaitu “to determine”
dengan memandangnya dalam arti yang luas seluas-luasnya dan dalam
sedalam-dalamnya. Manusia tidak dapat lepas dari kegiatan “to determine” atau
menetukan contohnya memakai baju. Memakai baju adalah kegiatan “to determine”
atau menetukan terhadap baju yang dipakai. Determine absolute adalah Tuhan.
Manusia yang hobinya menentukan sifat dinamakan determinis. Otoriter termasuk
determinis.Jika yang benar yang kuasa maka filsafatnya adalah otoritarianism. Melihat
sesuatu juga sudah termasuk determine, memikirkan juga sudah determine.
Determine sejalan dengan reduksi, reduksi adalah memilih. Kodrat manusia adalah
memilih dan terpilih. Contohnya manusia lahir dari rahim siapa itu terpilih
oleh Tuhan. Manusia tidak bisa memlih tetapi terpilih.
Reduksi dan determine adalah metode yang sangat ampuh,
tapi sekaligus sangat berbahaya dan sangat merugikan. Misal seseorang sedang
memandang sesuatu maka, orang tersebut kehilangan kesempatan untuk memandang
yang lain dan menjadi orang yang sangat merugi, karena yang lain juga punya hak
yang sama untuk dipandang, sehingga orang
tersebut memiliki sifat reduksi dan determine sekaligus. Akan sangat berbahaya
jika determine itu menutupi sifat yang lain sehingga sifat yang lain itu tidak
berdaya.
Filsafatnya para dewa disebut sebagai filsafat transendennism.
Siapakah yang dimaksud dewa? Dewa yang dimaksud disini adalah diriku yang
dimensinya setingkat lebih tinggi dari orang atau objek yang lain yang ada di
bawahnya. Contoh seorang kakak adalah dewa bagi adiknya, Maka ilmu seorang
kakak itu transenden, contohnya adalah jika kakaknya korupsi maka adiknya tidak
akan mengerti. Sehingga analog dengan hal tersebut maka koruptor adalah dewa dan
yang bisa menangkap adalah dewa yang lain misalnya KPK. Yang dimaksud dengan
transenden adalah diluar batas. Dewa adalah termasuk dalam yang ada dan yang
mungkin ada terhadap sifat-sifatnya. Manusia adalah dewa bagi setiap bajunya. Yang
dimaksud bukanlah metode tradisional untuk memahami para dewa. Belajar filsafat
antara lain juga belajar memahami komunikasinya para dewa, sehingga belajar
filsafat bukanlah hal yang mudah karena sifatnya yang berdimensi-dimensi. Berfilsafat
juga adalah merupakan sopan santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada.
Jika yang benar yang untung maka filsafatnya adalah
capitalism. Maksudnya bukanlah hanya dar yang benar yang untung dalam arti
sempit. Sama halnya dengan matematika, benar jika masih dipikirkan, dan bisa
jadi menjadi salah apabila diucapkan, karena ucapan itu terbatas. Karena
pertama diucapkan dan yang kedua diucapkan itu sudah beda. Itulah yang dimaksud
filsafat adalah kontradiksi. Dan perlu dipahami bahwa kontradiksi dalam
filsafat berbeda dengan kontradiksi dalam matematika.
Tanya jawab:
1.
Adakah kata lain
dengan selain dewa untuk menggambarkan tingkatan atau dimensi?
Jawab:
Kata dewa dipilih karena merupakan kata yang paling
mewakili, kecuali untuk agama tertentu yang mungkin merasa risi karena kata
dewa yang dipakai. Filsafat itu menggunakan bahasa analog yang lebih dari
sekedar bahasa kiasan. Para dewa itu sifatnya memenuhi syarta-syarat tertentu
itu tidak? Oleh karenanya hal itu termasuk dalam bahaya dari filsafat apabila
tidak ditempatkan pada konteksnya. Ketika mengatakan bahwa kamu adalah dewa
bagi adikmu itu sudah salah ketika keluar dari pembicaraan filsafat (proses
berfilsafat). Padahal kecenderungan yang dilakukan adalah membawa
istilah-istilah filsafat itu keluar, dan akan menjadi salah jika tidak sesuai
dengan konteknya. Oleh karenanya bahaya dari orang berfilsafat adalah apabila
parsial ,tidak kontekstual dan sepenggal-sepenggal atau tidak utuh. Maka jika akan
mengatakan sesuatu haruslah adil misalnya: wahai adikku aku adalah dewa bagi
dirimu, ntetapi engkau juga dewa bagi bajumu. Hindari bersifat bersifat
manipulative. Akan tetapi hal ini juga termasuk salah karena berbicara pada
orang yang belum semestinya memikirkan hal tersebut. Filsafat bersifat refleksif
dan untuk orang-orang dewasa yang mungkin mampu memikirkannya. Artinya walaupun
sudah tua belum tentu dewasa pemikirannya. Umur bukan ukuran dari kedewasaan.
2.
Apakah mungkin
diantara para dewa itu bisa saling menjadi dewa bagi yang lainnya?
Jawab:
Tentu bisa, karena dewa itu manusia, dewa juga punya
raja, punya rakyat, punya tentara.
Pertanyaan:
Berpikir untuk memahami bahasa analog yang diciptakan oleh para dewa, apakah
hal seperti itu yang termasuk dalam proses berfilsafat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar