Refleksi Perkuliahan
Filsafat Pendidikan Matematika
Nama : Ridha Esty Argarini
NIM : 09301241008
Prodi : Pendidikan Matematika
2009
1. Pertanyaan :
Apakah semua yang ada di alam semesta ini memiliki
pola? Apakah hal yang serumit benag kusut pun juga memiliki pola?
Jawaban :
Sebuah pola akan menjadi bukan pola bagi orang yang
tidak memahaminya. Sedangkan bagi orang yang memahami dan mempercayainya maka
semuanya sesungguhnya sudah di desain oleh Tuhan sedemikian rupa sehingga semuanya
memiliki pola, hanya saja terkadang manusia tidak mampu melihatnya secara
jelas. Ada atau tidaknya pola dalam suatu hal tergantung pada kepercayaan dan
pemahaman.
Dengan demikian, maka sesungguhnya pola itu sendiri
muncul pada seseorang yang mampu memahami hal yang berpola tersebut. Bagi orang
yang tidak paham maka sesuatu yang sesungguhnya berpola akan nampak tidak teratur baginya, sampai saatnya nanti
dia mampu memahami dan menemukan pola dari hal yang sebelumnya nampak tidak
terratur baginya. Proses tersebut terjadi terus menerus, sehingga manusia mampu
menemukan pola demi pola yang telah dirancang oleh Tuhan dalam semesta ini,
meskipun selalu dalam konteks yang terbatas, yaitu terbatas pada kemampuan
manusia saja.
2. Pertanyaan :
Apakah
hakekat perbedaan dalam persatuan?
Jawaban :
Manusia memiliki perbedaan dalam banyak hal, akan
tetapi juga bisa bersama dalam beberapa hal. Dapat dikatakan dalam satu kalimat
yaitu, bahwa setiap manusia itu berbeda tetapi setiap manusia itu adalah sama. Persamaan
tersebut misalnya, sama-sama makhluk Tuhan, sama-sama membutuhkan oksigen,
sama-sama akan mati walaupun entah kapan matinya. Manusia terikat dengan ruang
dan waktu, sehingga hal inilah yang menjadikan setiap manusia itu berbeda.
Sehingga secara filsafat masalah tentang hakekat perbedaan dalam persatuan
sangatlah mudah diselesaikan, berdasarkan pada konteks apa yang dibicarakan.
Sama dalam hal apa, dan berbeda dalam hal apa.
Perbedaan dan persatuan dapat terjadi secara
sekaligus, hanya konteksnya saja yang membuat sesuatu yang ada menjadi berbeda
atau sama, dan keduanya yaitu perbedaan dan persatuan atau sesuatu yang sama
itu terjadi secara bersamaan.
3. Pertanyaan :
Kapankah
sesuatu itu disebut sebagai mimpi?
Jawaban :
Mimpi merupakan hal yang bisa diingat, bisa juga mudah
dilupakan. Hal ini tergantung dari kualitas mimpi itu sendiri. Kualitas mimpi
ada yang rendah dan ada tinggi tergantung dari kualitas hidupnya. Area mimpi
juga dapat dipelajari di dalam pendekatan psikologi. Secara filsafat ada juga
teori mengenai mimpi
4. Pertanyaan :
Apakah
beda cinta dan sayang?
Jawaban :
Sayang adalah hal yang kontekstual, begitupun dengan
cinta, juga merupakan hal yang kontekstual. Keduanya juga merupakan hal yang
berdimensi. Cinta dan sayang, keduanya merupakan hal yang berasal dari intuisi.
Cinta tidak bisa didefinisikan secara pasti, sejauh ini yang dilakukan hanyalah
mengkarakteristikkan atau mencirikan. Cara membedakan cinta dengan sayang
adalah dengan intuisi. Definisi dari cinta maupun sayang diperoleh dari
pengalaman dan lingkungan yang secara intiutif memunculkan perbedaan diantara
keduanya. Melalui kondisi lingkungan, dengan memperhatikan pada saat bagaimana
kata sayang diungkapkan dan pada saat bagaimana kata cinta itu diungkapkan
cukup menumbuhkan intuisi untuk dapat memahami apa arti kata cinta dan apa arti
kata sayang, sehingga tidak perlu didefinisikan. Intuisi sudah cukup membuat
orang-orang mampu memahami arti dari kedua kata tersebut beserta perbedaannya. Pada
saat-saat tertentu bisa saja cinta dan sayang memiliki maksud atau arti yang
sama misalnya sebagai panggilan khusus bagi seorang pria kepada pasangannya,
akan tetapi pada kondisi lain terkadang cinta dan sayang memiliki arti kata
yang berbeda.
5. Pertanyaan :
Mengapa
obyek filsafat itu yang ada dan yang mungkin ada, kenapa yang tidak ada tidak
termasuk?
Jawaban :
Obyek
yang tidak ada bersifat relatif, yaitu tergantung pada ruang dan waktu. Yang
tidak ada memiliki kemungkinan untuk menjadi ada, sehingga yang tidak ada dapat
dikategorikan sebagai yang mungkin ada dalam obyek filsafat. Misalnya sesuatu
hal yang tidak ada dalam pikiran manusia sebelumnya, bisa saja menjadi ada
setelah suatu hal tersebut masuk ke dalam pikiran atau mungkin juga hal
tersebut memang benar-benar tidak ada. Sehingga masih mungkin untuk diteruskan
lagi, memikirkan mengenai hal-hal yang tidak ada untuk mengetahui bahwa hal
tersebut sebenarnya ada atau memang tidak ada. Akan tetapi dalam berfilsafat
perlu untuk berhati-hati, apalagi jika sudah masuk ke dalam ranah spiritual. Karena
jika sudah masuk ke dalam ranah spiritual maka seharusnya konteks berbicaranya
adalah tentang keyakinan, kemudian sisanya yang tidak berkaitan dimasukkan ke
dalam ruma epoche.
6. Pertanyaan :
Bagaimana
hakekat guru matematika yang dianggap galak di sekolah?
Jawaban :
Hakekat dengan kata galak merupakan dua kata yang
tidak seimbang. Lebih tepatnya mengungkapkan tentang apa ciri-ciri dari guru
yang galak. Ciri-ciri guru yang galak seperti apa itulah yang diungkapkan,
misalnya sering marah, toleransi yang kurang atau suka memaksakan kehendak. Sehingga
untuk menjelaskan pengertian galak, sudah cukup dengan mengetahui atau
mendeskripsikan ciri-ciri dari perilaku galak itu sendiri.
7. Pertanyaan :
Bagaimana menghadapi orang yang enggan untuk berbagi
ilmu yang mereka punya dan enggan untuk berbagi kepada orang lain.
Jawaban :
Manusia menggunakan komunikasi untuk berbagi,
seandainya memang yang bersangkutan merasa tidak ikhlas untuk membagi ilmunya,
kondisi juga dapat menjadi berdimensi. Sebagai contoh di negara kapital dimana
orientasinya adalah bisnis maka yang terjadi adalah penghargaan terhadap
sekecil apapun karya orang lain. Hal ini terjadi di Amerika, dimana dikenal
istilah teacher pay teacher, artinya seorang guru bisa menuliskan karyanya
dalam bentuk file, kemudian ketika ada guru lain yang ingin mengambil file
tersebut maka harus membayar dengan sejumlah uang, ini mencerminkan dimensi
yang sudah mencapai orientasi bisnis.
8. Pertanyaan :
Bagaimana caranya memberikan pemahaman kepada guru
matematika tentang pembelajaran matematika?
Jawaban :
Kecenderungan untuk menganggap orang lain sebagai
obyek dari kegiatan yang akan dilakukannya masih sering kali muncul. Setiap
orang baik anak-anak sampai orang dewasa keterampilan ataupun kemampuan yang
paling penting adalah keterampilan hidup yaitu membangun, termasuk juga
membangun pengetahuannya secara mandiri. Semestinya tidak perlu diberikan
pemahaman akan tetapi, secara sadar guru yang belajar atas inisiatifnya
sendiri. Hal inilah yang tidak banyak dipahami.
9. Pertanyaan :
Apakah penyebab krisis multidimensi?
Jawaban :
Penyebab
munculnya krisis multi dimensi adalah guru. Salah satu yang menyebabkannya
adalah pemikiran bahwa pengetahuan ataupun pemahaman adalah sesuatu yang perlu
untuk diberikan, padahal tanpa adanya kesadaran secara mandiri hal tersebut
mustahil untuk dapat berkembang dengan baik. Jika perilaku ini terjadi pada
guru, maka inilah yang menyebabkan munculnya krisis multi dimensi. Karena
perilaku demikian menjadikan siswa tidak belajar secara alami sehingga siswa
kehilangan intuisi.
10. Pertanyaan :
Mengapa
banyak orang beranggapan bahwa berfilsafat itu sulit?
Jawaban :
Belajar filsafat merupakan hal yang sulit bukan hanya
sekedar anggapan saja tetapi memang sebenarnya belajar filsafat adalah hal yang
sulit. Karena belajar filsafat haruslah bersifat ekstensif dan intensif, atau
dapat pula dikatakan luas seluas seluas-luasnya dan dalam sedalam-dalamnya. Yang
luas adalah cakupan dari filsafat itu sendiri karena meliputi hal yang ada dan
yang mungkin ada. Hal-hal seperti inilah yang membuat belajar filsafat bukan
merupakan hak yang mudah.
11. Pertanyaan :
Apakah
yang dimaksud dengan hermeneutika?
Jawaban :
Hermeneutika berarti terjemah dan menerjemahkan, yang
di dalam masyarakat dapat diartikan sebagai silaturahim. Sebagai seorang guru
yang bertugas sebagai falisitator dalam proses pembelajaran matematika, maka
tugas guru adalah memberikan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh siswa
sehingga siswa mampu bersilaturahim dengan matematika.
Disinlah siswa sangat membutuhkan peran dari guru akan
tetapi kebutuhan siswa ini belum mampu dipenuhi secara maksimal. Selama ini
siswa belajar matematika akan tetapi jarang sekali dari proses balejar terseut
yang dapat dikategorikan sebagai proses silaturahmi siswa dengan matematika.
12. Pertanyaan :
Secara
filsafat adakah kaitan antara khayalan dengan cita-cita?
Jawaban :
Iya, keduanya saling terkait, cita-cita pastilah
merupakan sebuah khayalan tetapi khayalan belum tentu merupakan suatu
cita-cita. Maka cita-cita adalah khayalan yang tersitem, yang memiliki alasan,
landarsan dan latar belakang. Memikirkan cita-cita adalah kegiatan berkhayal,
akan tetapi adalah khayalan yang tersistem dan khayalan yang terstruktur. Sehingga
cita-cita yang baik atau cita-cita yang bukan hanya sekedar khayalan adalah
cita-cita yang memiliki landasan yang jelas. Cita-cita juga dapat diartikan
sebagai khayalan yang dapat dipertanggungjawabkan.
13. Pertanyaan :
Apakah
pengertian dari sombong?
Jawaban :
Pengertian sombong juga
bertingkat-tingkat atau berdimensi. Mula dari pengertian berdasar pandangan
orang awam, pengertian berdasarkan psikologi, sampai pada sombong dipandang
dari segi spiritual. Sombong secara spiritual dimaknai dengan keidentikannya
dengan syaitan. Tetapi tanpa didefinisikan pun orang-orang sudah dapat memahami
apa arti dari kata sombong melalui intuisi. Sombong menjadi musuh
kontraproduktif dari manusia sendiri.
Pertanyaan:
Bagaimana penjelasan
mengenai motivasi, secara filsafat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar