Senin, 07 Januari 2013

Tanya Jawab Filsafat



Refleksi Perkuliahan
Filsafat Pendidikan Matematika
Nama   : Ridha Esty Argarini
NIM    : 09301241008
Prodi   : Pendidikan Matematika 2009

1.      Pertanyaan       :
Apakah semua yang ada di alam semesta ini memiliki pola? Apakah hal yang serumit benag kusut pun juga memiliki pola?
Jawaban           :
Sebuah pola akan menjadi bukan pola bagi orang yang tidak memahaminya. Sedangkan bagi orang yang memahami dan mempercayainya maka semuanya sesungguhnya sudah di desain oleh Tuhan sedemikian rupa sehingga semuanya memiliki pola, hanya saja terkadang manusia tidak mampu melihatnya secara jelas. Ada atau tidaknya pola dalam suatu hal tergantung pada kepercayaan dan pemahaman.
Dengan demikian, maka sesungguhnya pola itu sendiri muncul pada seseorang yang mampu memahami hal yang berpola tersebut. Bagi orang yang tidak paham maka sesuatu yang sesungguhnya berpola akan nampak  tidak teratur baginya, sampai saatnya nanti dia mampu memahami dan menemukan pola dari hal yang sebelumnya nampak tidak terratur baginya. Proses tersebut terjadi terus menerus, sehingga manusia mampu menemukan pola demi pola yang telah dirancang oleh Tuhan dalam semesta ini, meskipun selalu dalam konteks yang terbatas, yaitu terbatas pada kemampuan manusia saja.

2.      Pertanyaan       :
Apakah hakekat perbedaan dalam persatuan?
            Jawaban           :
Manusia memiliki perbedaan dalam banyak hal, akan tetapi juga bisa bersama dalam beberapa hal. Dapat dikatakan dalam satu kalimat yaitu, bahwa setiap manusia itu berbeda tetapi setiap manusia itu adalah sama. Persamaan tersebut misalnya, sama-sama makhluk Tuhan, sama-sama membutuhkan oksigen, sama-sama akan mati walaupun entah kapan matinya. Manusia terikat dengan ruang dan waktu, sehingga hal inilah yang menjadikan setiap manusia itu berbeda. Sehingga secara filsafat masalah tentang hakekat perbedaan dalam persatuan sangatlah mudah diselesaikan, berdasarkan pada konteks apa yang dibicarakan. Sama dalam hal apa, dan berbeda dalam hal apa.
Perbedaan dan persatuan dapat terjadi secara sekaligus, hanya konteksnya saja yang membuat sesuatu yang ada menjadi berbeda atau sama, dan keduanya yaitu perbedaan dan persatuan atau sesuatu yang sama itu terjadi secara bersamaan.

3.      Pertanyaan       :
Kapankah sesuatu itu disebut sebagai mimpi?
            Jawaban           :
Mimpi merupakan hal yang bisa diingat, bisa juga mudah dilupakan. Hal ini tergantung dari kualitas mimpi itu sendiri. Kualitas mimpi ada yang rendah dan ada tinggi tergantung dari kualitas hidupnya. Area mimpi juga dapat dipelajari di dalam pendekatan psikologi. Secara filsafat ada juga teori mengenai mimpi

4.      Pertanyaan       :
Apakah beda cinta dan sayang?
            Jawaban           :
Sayang adalah hal yang kontekstual, begitupun dengan cinta, juga merupakan hal yang kontekstual. Keduanya juga merupakan hal yang berdimensi. Cinta dan sayang, keduanya merupakan hal yang berasal dari intuisi. Cinta tidak bisa didefinisikan secara pasti, sejauh ini yang dilakukan hanyalah mengkarakteristikkan atau mencirikan. Cara membedakan cinta dengan sayang adalah dengan intuisi. Definisi dari cinta maupun sayang diperoleh dari pengalaman dan lingkungan yang secara intiutif memunculkan perbedaan diantara keduanya. Melalui kondisi lingkungan, dengan memperhatikan pada saat bagaimana kata sayang diungkapkan dan pada saat bagaimana kata cinta itu diungkapkan cukup menumbuhkan intuisi untuk dapat memahami apa arti kata cinta dan apa arti kata sayang, sehingga tidak perlu didefinisikan. Intuisi sudah cukup membuat orang-orang mampu memahami arti dari kedua kata tersebut beserta perbedaannya. Pada saat-saat tertentu bisa saja cinta dan sayang memiliki maksud atau arti yang sama misalnya sebagai panggilan khusus bagi seorang pria kepada pasangannya, akan tetapi pada kondisi lain terkadang cinta dan sayang memiliki arti kata yang berbeda.






5.      Pertanyaan       :
Mengapa obyek filsafat itu yang ada dan yang mungkin ada, kenapa yang tidak ada tidak termasuk?
Jawaban           :
            Obyek yang tidak ada bersifat relatif, yaitu tergantung pada ruang dan waktu. Yang tidak ada memiliki kemungkinan untuk menjadi ada, sehingga yang tidak ada dapat dikategorikan sebagai yang mungkin ada dalam obyek filsafat. Misalnya sesuatu hal yang tidak ada dalam pikiran manusia sebelumnya, bisa saja menjadi ada setelah suatu hal tersebut masuk ke dalam pikiran atau mungkin juga hal tersebut memang benar-benar tidak ada. Sehingga masih mungkin untuk diteruskan lagi, memikirkan mengenai hal-hal yang tidak ada untuk mengetahui bahwa hal tersebut sebenarnya ada atau memang tidak ada. Akan tetapi dalam berfilsafat perlu untuk berhati-hati, apalagi jika sudah masuk ke dalam ranah spiritual. Karena jika sudah masuk ke dalam ranah spiritual maka seharusnya konteks berbicaranya adalah tentang keyakinan, kemudian sisanya yang tidak berkaitan dimasukkan ke dalam ruma epoche.

6.      Pertanyaan       :
Bagaimana hakekat guru matematika yang dianggap galak di sekolah?
Jawaban           :
Hakekat dengan kata galak merupakan dua kata yang tidak seimbang. Lebih tepatnya mengungkapkan tentang apa ciri-ciri dari guru yang galak. Ciri-ciri guru yang galak seperti apa itulah yang diungkapkan, misalnya sering marah, toleransi yang kurang atau suka memaksakan kehendak. Sehingga untuk menjelaskan pengertian galak, sudah cukup dengan mengetahui atau mendeskripsikan ciri-ciri dari perilaku galak itu sendiri.

7.      Pertanyaan       :
Bagaimana menghadapi orang yang enggan untuk berbagi ilmu yang mereka punya dan enggan untuk berbagi kepada orang lain.
            Jawaban           :
Manusia menggunakan komunikasi untuk berbagi, seandainya memang yang bersangkutan merasa tidak ikhlas untuk membagi ilmunya, kondisi juga dapat menjadi berdimensi. Sebagai contoh di negara kapital dimana orientasinya adalah bisnis maka yang terjadi adalah penghargaan terhadap sekecil apapun karya orang lain. Hal ini terjadi di Amerika, dimana dikenal istilah teacher pay teacher, artinya seorang guru bisa menuliskan karyanya dalam bentuk file, kemudian ketika ada guru lain yang ingin mengambil file tersebut maka harus membayar dengan sejumlah uang, ini mencerminkan dimensi yang sudah mencapai orientasi bisnis.

8.      Pertanyaan       :
Bagaimana caranya memberikan pemahaman kepada guru matematika tentang pembelajaran matematika?
            Jawaban           :
Kecenderungan untuk menganggap orang lain sebagai obyek dari kegiatan yang akan dilakukannya masih sering kali muncul. Setiap orang baik anak-anak sampai orang dewasa keterampilan ataupun kemampuan yang paling penting adalah keterampilan hidup yaitu membangun, termasuk juga membangun pengetahuannya secara mandiri. Semestinya tidak perlu diberikan pemahaman akan tetapi, secara sadar guru yang belajar atas inisiatifnya sendiri. Hal inilah yang tidak banyak dipahami.

9.      Pertanyaan       :
Apakah penyebab krisis multidimensi?
Jawaban           :
            Penyebab munculnya krisis multi dimensi adalah guru. Salah satu yang menyebabkannya adalah pemikiran bahwa pengetahuan ataupun pemahaman adalah sesuatu yang perlu untuk diberikan, padahal tanpa adanya kesadaran secara mandiri hal tersebut mustahil untuk dapat berkembang dengan baik. Jika perilaku ini terjadi pada guru, maka inilah yang menyebabkan munculnya krisis multi dimensi. Karena perilaku demikian menjadikan siswa tidak belajar secara alami sehingga siswa kehilangan intuisi.

10.  Pertanyaan       :
Mengapa banyak orang beranggapan bahwa berfilsafat itu sulit?
Jawaban           :
Belajar filsafat merupakan hal yang sulit bukan hanya sekedar anggapan saja tetapi memang sebenarnya belajar filsafat adalah hal yang sulit. Karena belajar filsafat haruslah bersifat ekstensif dan intensif, atau dapat pula dikatakan luas seluas seluas-luasnya dan dalam sedalam-dalamnya. Yang luas adalah cakupan dari filsafat itu sendiri karena meliputi hal yang ada dan yang mungkin ada. Hal-hal seperti inilah yang membuat belajar filsafat bukan merupakan hak yang mudah.

11.  Pertanyaan       :
Apakah yang dimaksud dengan hermeneutika?
Jawaban           :
Hermeneutika berarti terjemah dan menerjemahkan, yang di dalam masyarakat dapat diartikan sebagai silaturahim. Sebagai seorang guru yang bertugas sebagai falisitator dalam proses pembelajaran matematika, maka tugas guru adalah memberikan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh siswa sehingga siswa mampu bersilaturahim dengan matematika.
Disinlah siswa sangat membutuhkan peran dari guru akan tetapi kebutuhan siswa ini belum mampu dipenuhi secara maksimal. Selama ini siswa belajar matematika akan tetapi jarang sekali dari proses balejar terseut yang dapat dikategorikan sebagai proses silaturahmi siswa dengan matematika.

12.  Pertanyaan       :
Secara filsafat adakah kaitan antara khayalan dengan cita-cita?
Jawaban           :
Iya, keduanya saling terkait, cita-cita pastilah merupakan sebuah khayalan tetapi khayalan belum tentu merupakan suatu cita-cita. Maka cita-cita adalah khayalan yang tersitem, yang memiliki alasan, landarsan dan latar belakang. Memikirkan cita-cita adalah kegiatan berkhayal, akan tetapi adalah khayalan yang tersistem dan khayalan yang terstruktur. Sehingga cita-cita yang baik atau cita-cita yang bukan hanya sekedar khayalan adalah cita-cita yang memiliki landasan yang jelas. Cita-cita juga dapat diartikan sebagai khayalan yang dapat dipertanggungjawabkan.

13.  Pertanyaan       :
Apakah pengertian dari sombong?
Jawaban           :
            Pengertian sombong juga bertingkat-tingkat atau berdimensi. Mula dari pengertian berdasar pandangan orang awam, pengertian berdasarkan psikologi, sampai pada sombong dipandang dari segi spiritual. Sombong secara spiritual dimaknai dengan keidentikannya dengan syaitan. Tetapi tanpa didefinisikan pun orang-orang sudah dapat memahami apa arti dari kata sombong melalui intuisi. Sombong menjadi musuh kontraproduktif dari manusia sendiri.

Pertanyaan:
Bagaimana penjelasan mengenai motivasi, secara filsafat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar