Minggu, 06 Januari 2013

Aliran-aliran Dalam Filsafat




Refleksi Perkuliahan ke-2
Filsafat Pendidikan Matematika
Nama   : Ridha Esty Argarini
NIM    : 09301241008\
Prodi   : Pendidikan Matematika 2009
Aliran filsafat dapat diberi nama berdasarkan pada obyeknya, misalnya saja jika obyek filsafat tersebut adalah benda-benda alam maka filsafatnya adalah benda-benda alam. Filsafat juga bisa diberi nama berdasarkan pada nama tokohya. Misalnya Heagelianism , adalah Heagel adalah tokoh yang mengatakan bahwa segala yang ada dan yang mungkin ada itu menyejarah, maka filsafat sejarah disebut sebagai Heagelian. Nama filsafat ada juga yang ditentukan dengan sifat, misalnya benda dalam pikir itu sifatnya ideal maka filsafatnya namanya idealism , ideal artinya tetap . Aliran ini sejalan dengan Permenides yaitu tetap. Plato adalah tokoh yang pemikirannya sejalan dengan Permenides. Contohnya yang tetap adalah bilangan, bilangan itu bersifat tetap dan tidak berubah, apabila masih di dalam pikiran. Tetapi apabila bilangan sudah di luar pikiran maka bilangan tersebut akan mengikuti yang ada dan yang mungkin ada atau di sebut sebagai plural. Bilangan lima bersifat plural,karena akan muncul lima yang besar lima yang kecil, lima yang hijau lima yang kuning lima yang tebal lima yang tipis dan seterusnya. Maka filsafatnya realis yaitu bersifat real. Tokohnya adalah Aristoclian.Ada juga aliran filsafat yang diberi nama sesuai dengan aktifitasnya. Contohnya adalah Socrates yang filsafatnya diperoleh dengan cara bertanya sehingga filsafatnya diberi nama dialegtisism.
Jika yang benar satu maka filsafatnya monoisme, monoisme itu tidak lain tidak bukan adalah Tuhan. Tuhan adalah contoh dari monoisme. Jika yang benar banyak maka hal tersebut menyangkut urusan dunia.
Berbicara mengenai filsafat, filsafat adalah pikiran, maka pikiran adalah dunia. Pikiran dan dunia itu banyak sehingga termsuk dalam pluralism . Jika yang benar itu dua maka dualism contohnya adalah baik buruk. Masyarakat cenderung bersifat dualism contohny adalah pendapat tentang yang boleh dan tidak boleh, baik dan buruk dan lain sebagainya akan tetapi kurang trampil dalam membuat penjelasan antara baik dan buruk. Jarak antara yang baik dan buruk dapat dikatakan remang-remang atau tidak jelas. Daerah yang remang-remang ini menjadi daerah yang rawan, contohnya adalah rawan terhadap perilaku korup atau korupsi dan disalah gunakan.
Jika ukuran dari filsafat adalah diriku yang benar, atau benar menurut diriku maka filsafatnya adalah subyektifism. Tetapi jika mengakui pendapat orang lain maka filsafatnya disebut sebagai obyektifism. Yang benar diriku yang disebut sebagai filsafat subyektifism, tidak sesederhana itu memahaminya. Abstraksi telah dilakukan dengan cara memilih salah satu statement yang sangat singkat yaitu  “to determine” dengan memandangnya dalam arti yang luas seluas-luasnya dan dalam sedalam-dalamnya. Manusia tidak dapat lepas dari kegiatan “to determine” atau menetukan contohnya memakai baju. Memakai baju adalah kegiatan “to determine” atau menetukan terhadap baju yang dipakai. Determine absolute adalah Tuhan. Manusia yang hobinya menentukan sifat dinamakan determinis. Otoriter termasuk determinis.Jika yang benar yang kuasa maka filsafatnya adalah otoritarianism. Melihat sesuatu juga sudah termasuk determine, memikirkan juga sudah determine. Determine sejalan dengan reduksi, reduksi adalah memilih. Kodrat manusia adalah memilih dan terpilih. Contohnya manusia lahir dari rahim siapa itu terpilih oleh Tuhan. Manusia tidak bisa memlih tetapi terpilih.
Reduksi dan determine adalah metode yang sangat ampuh, tapi sekaligus sangat berbahaya dan sangat merugikan. Misal seseorang sedang memandang sesuatu maka, orang tersebut kehilangan kesempatan untuk memandang yang lain dan menjadi orang yang sangat merugi, karena yang lain juga punya hak yang sama untuk dipandang,  sehingga orang tersebut memiliki sifat reduksi dan determine sekaligus. Akan sangat berbahaya jika determine itu menutupi sifat yang lain sehingga sifat yang lain itu tidak berdaya.
Filsafatnya para dewa disebut sebagai filsafat transendennism. Siapakah yang dimaksud dewa? Dewa yang dimaksud disini adalah diriku yang dimensinya setingkat lebih tinggi dari orang atau objek yang lain yang ada di bawahnya. Contoh seorang kakak adalah dewa bagi adiknya, Maka ilmu seorang kakak itu transenden, contohnya adalah jika kakaknya korupsi maka adiknya tidak akan mengerti. Sehingga analog dengan hal tersebut maka koruptor adalah dewa dan yang bisa menangkap adalah dewa yang lain misalnya KPK. Yang dimaksud dengan transenden adalah diluar batas. Dewa adalah termasuk dalam yang ada dan yang mungkin ada terhadap sifat-sifatnya. Manusia adalah dewa bagi setiap bajunya. Yang dimaksud bukanlah metode tradisional untuk memahami para dewa. Belajar filsafat antara lain juga belajar memahami komunikasinya para dewa, sehingga belajar filsafat bukanlah hal yang mudah karena sifatnya yang berdimensi-dimensi. Berfilsafat juga adalah merupakan sopan santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada.
Jika yang benar yang untung maka filsafatnya adalah capitalism. Maksudnya bukanlah hanya dar yang benar yang untung dalam arti sempit. Sama halnya dengan matematika, benar jika masih dipikirkan, dan bisa jadi menjadi salah apabila diucapkan, karena ucapan itu terbatas. Karena pertama diucapkan dan yang kedua diucapkan itu sudah beda. Itulah yang dimaksud filsafat adalah kontradiksi. Dan perlu dipahami bahwa kontradiksi dalam filsafat berbeda dengan kontradiksi dalam matematika.
Tanya jawab:
1.      Adakah kata lain dengan selain dewa untuk menggambarkan tingkatan atau dimensi?
Jawab:
Kata dewa dipilih karena merupakan kata yang paling mewakili, kecuali untuk agama tertentu yang mungkin merasa risi karena kata dewa yang dipakai. Filsafat itu menggunakan bahasa analog yang lebih dari sekedar bahasa kiasan. Para dewa itu sifatnya memenuhi syarta-syarat tertentu itu tidak? Oleh karenanya hal itu termasuk dalam bahaya dari filsafat apabila tidak ditempatkan pada konteksnya. Ketika mengatakan bahwa kamu adalah dewa bagi adikmu itu sudah salah ketika keluar dari pembicaraan filsafat (proses berfilsafat). Padahal kecenderungan yang dilakukan adalah membawa istilah-istilah filsafat itu keluar, dan akan menjadi salah jika tidak sesuai dengan konteknya. Oleh karenanya bahaya dari orang berfilsafat adalah apabila parsial ,tidak kontekstual dan sepenggal-sepenggal atau tidak utuh. Maka jika akan mengatakan sesuatu haruslah adil misalnya: wahai adikku aku adalah dewa bagi dirimu, ntetapi engkau juga dewa bagi bajumu. Hindari bersifat bersifat manipulative. Akan tetapi hal ini juga termasuk salah karena berbicara pada orang yang belum semestinya memikirkan hal tersebut. Filsafat bersifat refleksif dan untuk orang-orang dewasa yang mungkin mampu memikirkannya. Artinya walaupun sudah tua belum tentu dewasa pemikirannya. Umur bukan ukuran dari kedewasaan.
2.      Apakah mungkin diantara para dewa itu bisa saling menjadi dewa bagi yang lainnya?
Jawab:
Tentu bisa, karena dewa itu manusia, dewa juga punya raja, punya rakyat, punya tentara.
Pertanyaan:
Berpikir untuk memahami bahasa analog yang diciptakan oleh para dewa, apakah hal seperti itu yang termasuk dalam proses berfilsafat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar