Selasa, 13 September 2011

Persoalan Pembelajaran Matematika di Sekolah


By : Marsigit
Reviewed by : Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY

Based on the writer’s research on 1995, 1997, 1999 and 2002, showed that there are some teacher still applied traditional learning method. Whereas by using this method the teacher will get a problem on serving many kinds of students necessary to learning mathematics, to drive the student with low performance to increase their achievement, to drive a student to be active learner, to using and to developing the mathematics model stuff and to drive the student to work on group.
There are some solutions to solve this mathematics learning problem, and the one of these solution is by doing a class action. Trhough the class action, researcher get a chance to develop the learning method so that can solve the problem. Based on the Cockrof Report rekomendation, every level of learning mathematics should give a range to the teacher to choose one or their each dynamic combination method there are: exposition method, discussion method, exercise and task method, discover method, problem solving method and the using of model method.
The purpose of class action research is to develop mathematics learning method which is can fulfill the student academic necessary, to increase student learn achievement, to drive the student being an active learner, to develop the model stuff, to drive the student to work on group. To reach the purpose of the class action research, teacher should be able to develop student work sheet (LKS), creating the work group, to develop the class and group discussion method, and to develop the education media.
On the effort of developing learning model we can conclude that the teacher still get some problem to fulfill the student necessary,the teacher didn’t develop yet the sceme to drive a student with low performance  to reach an achivement, the teacher have created a condition to make a student being an active learner and also working on group even there are a problem to develop the sceme. We can conclude that generally, the teacher have been tried to develop a learning method which is appropriate to the purpose of class action.
The developing of mathematics learning method through class action research giving a positive impact even there are obstacle on their implementation. The one of some obstacle, rising because there aren’t appropriate between the mathematics learning model and the meaning of that learning model based on the theory.

Mathematical Thinking Across Multilateral Culture


By: Marsigit
Reviewed by: Ridha Esty Argarini/P.Matsub'09/UNY

                Berbagi pandangan tentang matematika adalah hal yang dibutuhkan dalam ilmu pengetahuan,  teknologi, pertumbuhan perekonomian dan pengembangan perekonomian anggota APEC, tak terkecuali juga pengembangan pendekatan pembelajaran matematika melalui Lesson Study diantara negara-negara anggota APEC.  Lesson study merupakan suatu metode pembelajaran yang diambil dari pendidikan di Jepang.
                Pamikiran matematika (Ono Y : 2006) adalah dasar bagi berbagai macam tipe berfikir, dan dengan mempelajari matematika siswa dapat belajar tentang logika dan cara berfikir yang rasional. Selanjutnya akan dibahas mengenai beberapa karya dari para pemikir di dunia pendidikan berdasarkan pada berbagai macam konteks dan budaya untuk memberikan pandangan tentang pemikiran matematika.
1.       Konteks Orang  Australia: Karya Stacey Kaye
Dalam konteks orang Australia, Stacey,K (2005) mengungkapkan bahwa guru harus memahami bahwa untuk dapat menyelesaikan masalah dengan matematika dibutukan kemampuan dan kecakapan termasuk diantaranya: memiliki kemampuan matematika yang memadai, kemampuan berfikir secara umum, pengetahuan tentang strategi heuristik, kepercayaan dan tingkah laku yang baik, kapribadian, dan kemampuan untuk menyampaikan solusi.
2.       Konteks Orang Inggris: Karya David Tall
David Tall (2006) berpendapat bahwa usaha guru dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa hanya pada saat tes saja tidaklah cukup untuk mengembangkan pemikiran matematika yang kuat.
3.       Konteks Orang Taiwan: Karya Fou Lai Lin
Fou Lai Lin (2006) membuktikan bahwa kegiatan mengira atau menerka dalam pemikiran matematika merupakan proses yang dibutuhkan dalam penyelesaian masalah, dan mengembangkan kemampuan membuktikan.
4.       Konteks Orang Jepang: Karya Katagiri
Katagiri (2004) menegaskan bahwa kemampuan yang paling penting yang dibutuhkan oleh seorang anak untuk bertahan di masa sekarang maupun di masa yang datang bukanlah kemempuan untuk menjalankan tugas dan perintah dengan benar dan cepat tetapi lebih kepada menetukan sendiri apa yang harus mereka lakukan.
5.       Konteks Orang Singapura: Karya Yeap Ban Har
Yeap Ban Har (2006) menggambarkan bahwa di Singapura, pendidikan mempunyai fungsi ekonomi. Pendidikan mempersiapkan siswa untuk mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia kerja.
6.       Konteks Orang Malaysia: Karya Lim Chap Sam
Lim Chap Sam (2006) mempelajari bahwa di dalam konteks orang Malaysia ada 3 komponen utama pemikiran matematika, diantaranya adalah: pengetahuan matematika, kegiatan metal dan perkiraan.
7.       Konteks Orang Indonesia: Karya Marsigit
Marsigit dkk (2007) menjelaskan bahawa berdasakan UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 mengatakan bahwa sistem pendidikan Indonesia harus mengembangkan kecerdasan , kemampuan individual , meningkatkan kepemimpinan yang baik, kecintaan pada tanah air dan mempunyai tanggung jawab sosial, mengembangkan sikap positif, kepercayaan diri dan pengembangan.

Developing Mathematics Education In Indonesia


By: Marsigit
Reviewed by: Ridha Esty Argarini/P.Matsub’09/UNY 
               
                Meningkatkan tingkat kecerdasan dan melanjutkan kesejahteraan umum adalah amanat dari UUD 1945 yang sesalau menjadi fokus utama dari pemerintah Indonesia. Hal ini menjelaskan bahwa pendidikan yang merupakan akar dari kecerdasan bangsa juga menjadi perhatian utama bagi pemerintah Indonesia.
                Gambaran dari model pembelajaran di Indonesia biasanya adalah guru menjelaskan secara langsung dan memberikan pertanyaan, kemudian siswa mengerjakan tugas dengan kertas dan pensil dan melakukannya di dalam kelas. Pembelajaran ini berpusat pada guru, sehingga guru menjadi figure sentral yang memberikan pengetahuan dan siswa hanya sebagai penerima saja. Tantangan bagi pendidik untuk masa depan adalah meningkatkan pembelajaran siswa dengan cara seorang guru  lebih meningkatkan kemampuan menyusun perintah, agar perintah-perintah tersebut dapat diikuti oleh siswa sebagai tutorial untuk membangun sendiri kemampuan yang akan mereka peroleh.
                Sampai saat ini kemampuan matematika dan ilmu pengetahuan alam anak-anak Indonesia masih terbilang rendah, hal ini mungkin saja dikarenakan : minimnya aktivitas laboratorium, kurangnya kemampuan guru dalam  pendekatan metode pembelajaran ilmu pengetahuan alam, Isi dari kurikulum matematika dan ilmu pengetahuan alam terlalu banyak, terlalu banyak ketentuan administratif untuk guru, kurangnya peralatan laboratorium dan sumber daya manusia. Di samping itu, dalam mempersiapkan guru untuk sekolah dasar dan sekolah menengah, kita mengalami masalah seperti orang-orang yang masuk dalam lembaga LPTK adalah orang dengan kemempuan akademik yang rendah. Sehingga kondisi guru matematika dan ilmu pengetahuan alam disekolah harus ditingkatkan kualifikasinya, sebagian dari mereka juga kurang menguasai matematika dan ilmu pengetahuan alam, tidak adanya sisten evaluasi bagi guru, pengawas hanya mengawasi secara administratif saja dan tidak meninjau poses mengajar guru di kelas, sistem  kenaikan pangkat guru tidak mendorong adanya peningkatan mutu guru. Selain itu di dalam kurikulum juga dijumpai adanya masalah di antarnya adalah: banyak guru masih kesulitan dalam menganalisis isi dari pedoman program mengajar,  jumlah dari materi dan isi dari mata pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam  memungkinkan guru untuk mengalami kesulitan untuk mengajar, banyak topik yang terlalu sulit untuk dimengerti oleh siswa, sebagian guru mempertimbangkan bahwa beberapa urutan topik perlu untuk disusun kembali, aspek yang ada didalam isi materi perlu untuk dipermudah. Selain itu masih juga banyak dijumpai masalah dalam hal pendekatan mengajar guru dan cara penilaian.
                Untuk menyelesaikan masalah di atas di butuhkan adanya kerjasama diantara institusi-institusi pendidikan untuk mencari alternatif penyelesaian dengan melihat pengalaman pendidikan negara-negara lain yang mungkin mempunyai peluang untuk mnguntungkan seperti: membahas dan meningkatkan pelaksanaan pengembangan kurikulum melalui buku, bahan ajar, metode pembelajaran dan penilaian, memperkaya pengalaman matematika dan ilmu pengetahuan alam  bagi pendidik, meningkatkan kualitas mengajar guru dan mengembangkan laboratorium, menyelesaikan masalah pembelajaran pengajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam di sekolah, dan  mengungkpakan pendapat untuk menigkatkan pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Revitalisasi Pendidikan Matematika

Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY
Reviewed by : Ridha Esty Argarini / P.Matsub’09/UNY

                Nowdays,in the world of education there are movement from the transfer knowledge method to the developing method. The developing method will give the student chance to developing their knowledge by they self so the teacher just should be the facilitator. Moreover the teacher also should have an appropriate teaching method for each level and  chapture on mathematics so the student can get the chance to develop. Changing the method of teaching isn’t easy to the teacher, whereas a teacher must have a skill to adapt their method with the period development, but revitalization of education is the effort to placing the teacher role to create the mathematics aducation which is appropriate with the nature.
                There aren’t best way yet about how to teaching mathematics, so in the every mathematics learning also should give the teacher chance to selecting which one of teaching method that’s appropriate with the topic and the ability of the students.
                The absoluter have stated that mathematics are neutral object beside of their own culture value, even naturally mathematics have a value there are abstract , general, formal, objective, rational and beside on the theory. Beside of their point of view, the absoluter decide the cases would be accepted and the cases would be ignored on the mathematics. The cases that is bound with the social implication was ignored, so mathematics only beside on the formal cases. This mathematics can not explain some unsolved problem on mathematics.
                Shirley (1986:34) explained that mathematics can be divided as formal and informal mathematics. And then also divide on the formal pure mathematics, formal applied mathematics, informal pure mathematics and informal applied mathematics.
                The development of mathematics can be drive beside on the agreement as revitalization of education also means the effort to create a mathematics learning model which is appropriate with the condition and the period development.  We should realize that education should more emphasize of the student necessary. Ebbutt and Straker (1995:10-63) give a directive of mathematics education revitalization, there are: Mathematics are pole and relation trace activity, mathematics are creativity which is need an imagination, intuition, and invention, mathematics are problem solving activity, mathematics are communication media, and the content of mathematics are fact, concept, algorithm skill, reasoning skill, problem solving skill and the last is investigation skill. In the other side Ebbutt and Straker (1995:60-75) also give their point of view to develop the student potency optimally teacher should realize that student will learn if there are motivation, student will learn with their own way, student will learn individually an through group, and student need differ  context and situation on their learning activity. Beside on these descriptions we can conclude that revitalization of education is the effort to giving a chance to the expert of education including the teacher  to doing a self reflection.