Minggu, 06 Januari 2013

Filsafat Pendidikan Matematika Adab Berfilsafat



Refleksi Perkuliahan ke-1
Nama   :Ridha Esty Argarini
NIM    :09301241008
Prodi   : Pendidikan Matematika 2009


Filsafat pendidikan matematika merupakan perpaduan antara filsafat dan pendidikan matematika. Sehingga sebelum mempelajari lebih jauh tentang filsafat pendidikan matematika, maka harus mengetahui terlebih dahulu tentang apa itu filsafat. Filsafat adalah olah pikir refleksif, sehingga yang dilakukan pada saat berfilsafat adalah berfikir.
Berfilsafat sama dengan mengikuti terminologi dunia, dengan kata dunia kita dapat meletakkan dunia di depan kata apapun misal dunia listrik, dunia wanita, dunia pendidikan. Demikian juga filsafat, kata filsafat dapat diletakkan di depan kata apapun, misalnya filsafat pendidikan, hal ini karena filsafat adalah olah pikir. Karena filsatfat adalah oleh pikir maka manusia dapat memikirkan apapun, termasuk juga memikirkan tentang Tuhan, walaupun terbatas. Akan tetapi dalam berfilsafat juga harus hati-hati karena berfilsafat itu ada adabnya atau tata cara.
Berbicara mengenai adab,  adalah berbicara mengenai tata cara. Karena filsafat adalah ilmu yang multi muka , yaitu ilmu yang dekat dengan diri kita akan tetapi bisa sangat jauh, bisa sangat berat akan tetapi bisa juga sangat ringan, bisa mneghibur akan tetapi bisa juga berbahaya. Maka untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, perlu dipahami sedini mungkin bahwa mempelajari filsafat adalah belajar mengenai tata cara atau tentang adab. Sama halnya ketika akan beribadah, tentu ada tata cara atau adabnya. Orang yang memperhatikan tata cara disebut sebagai orang yang beradab dan lawan dari beradab adalah biadab yaitu orang yang tidak mengenal dan mengerti tata cara.
Filsafat dapat didefinisikan sebagai banyak hal atau lebih ekstrimnya dapat didefinisikan sebagai apapun seperti halnya kata filsafat yang dapat di letakkan di depan kata apapun. Ketika mengikuti pembelajaran filsafat maka sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah mencari tata cara berfilsafat atau adabnya orang berfilsafat.
Adab yang pertama dan utama dari berfilsafat adalah memahami bahwa filsafat itu letaknya tinggi, tetapi setinggi-tingginya berfilsafat tidak boleh melebihi spiritual. Setinggi-tinggi beroleh pikir tetapi tidak oleh melebihi keyakinan. Maka sebelum berfilsafat, sebaiknya berdoa memohon pentunjuk dan ampunan dan setelah berfilsafat hendakya bersyukur, mohon petunjuk dan mohon ampunan pada Tuhan.  Jadi dasarnya adalah secara sepiritual terlebih dahulu, ibarat satu langkah berfilsafat sepuluh langkah berdoa dua puluh langkah berfilsafat dua puluh langkah berdoa . Jika pada saat berfilsafat mengalami pikiran yang berat dan membingungkan berhenti sejenak untuk mohon ampun dan mohon petunjukNya, seperti itulah seharusnya yang dilakukan saat berfilsafat. Jadi adab yang pertama adalah kedudukan filsafat dikaitkan dengan spiritual. Harus disadari bahwa untuk bertemu Tuhan tidak cukup dengan hanya dipikirkan , karena Tuhan itu lewat hati dan keyakinan , kalau ingin ketemu Tuhan tapi lewat pikiran maka tidak akan ketemu, begitulah letak berfilasafat atau berolah pikir terhadap keyakinan atau spiritual yang berkaitan dengan Tuhan. Bahayanya belajar filsafat tidak dilandasi dengan Tuhan dan spiritual adalah tidak akan dapat mengerti hati dan seluk beluknya termasuk cinta dan kasih sayang.
Adab yang kedua dari berfilsafat adalah menyadari bahwa filsafat itu hidup, contohnya: seseorang yang belum selesai menerangkan cinta, hal ini karena filsafat itu hidup. Karena filsafat itu hidup maka cara mempelajarinya adalah dengan metode hidup. Jika ingin mengetahui tentang metode hidup, maka perlu belajar dari kehidupan diluar tentang bagaimana Tuhan mampu menghidupkan tumbuh-tumbuhan dan manusia serta makhluk lainnya. Metode yang digunakan dalam berfilsafat adalah metode hidup sedangkan telah dikenal yang namanya hidup sehat dan hidup yang tidak sehat, hidup yang bahagia ada hidup yang tidak bahagia, demikian pula filsafat, ada filsafat yang sehat, ada pula filsafat yang tidak sehat , filsafat yang bahagia dan filsafat yang susah. Tuhan telah memberikan teladan, tentang bagaimana tumbuh-tumbuhan yang sehat, burung-burung yang sehat, manusia yang sehat. Untuk berdoa maka diperlukan keadaan yang sehat, jika dalam keadaan sakit maka ibadah terganggu. Oleh karena itu agar berfilsafatnya sehat maka perlu diperhatikan tata caranya.
Adab berikutnya adalah bahasa yang dipakai dalam berfilsafat adalah bahasa analog, bahasa analog adalah bahasa yang tingkatannya lebih tinggi dari pada sekedar kiasan. Contoh ketika mengatakan hati bisa juga yang dimaksud adalah tentang keyakinan, tentang spiritual, tentang Tuhan atau tentang agama. Berbicara pikiran bisa saja yang dimaksud adalah urusan manusia, urusan dunia, urusan yang tampak.  Metode hidup yang dikenal di dalam filsafat itu berkaitan dengan alat berfilsafat yaitu bahasa analog, sedangkan obyek berfilsafat adalah apa yang dipelajari dalam filsafat. Apa yang dipelajari dalam filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Yang mungkin ada adalah yang belum diketahui, yang ada adalah yang bisa dilihat didengar dipikirkan atau yang sudah diketahui.
Metode hidup yang berkaitan pikiran yaitu urusan manusia yang disebut terjemah dan diterjemahkan atau aslinya dari bahasa Yunani yaitu Hermenitica yang berarti berinteraksi tapi refleksif, yaitu interaksi yang refleksif. Berfilsafat adalah berinteraksi yang refleksif. Maka setiap hal di dunia ini sifatnya adalah berinteraksi dengan yang lainnya tanpa terkecuali. Makhluk hidup apapun bahkan materialpun saling terjemah dan menterjemahkan seperti batu berinteraksi dengan udara, panas dan air, sehingga batu-batu pun mengalami perubahan.
Adab tentang hidup yang sehat , hidup yang sehat secara filsafat adalah yang hidup yang harmoni atau hidup yang seimbang antar unsur-unsurnya. Maka harmoni itu identik dengan hidup bahagia sedangkan hidup tidak harmoni identik dengan hidup tidak bahagia. Dengan diam, maka hidup tidak akan harmoni karena diam itu ternyata tidak seimbang, karena sumbunya adalah sumbu usaha dan sumbu keikhlasan. Keikhlasan dalam usaha yang mengerti aturan-aturan di dalam kerangka spiritualnya.
Adab selanjutnya adalah membersihkan diri dari pikiran-pikiran yang mengganggu. Atau menjernihkan pikiran dalam filsafat disebut sebagai pure atau tidak ada kebencian dan jelas. Berfilsafat bukan aliran sesat tapi merupakan oleh pikir. Kejernihan memandang kedudukan filsafat. Adab berikutnya adalah sebenar-benar orang berfilsafat adalah orang yang brinteraksi refleksif . Yang didalamnya melakukan kegiatan refleksif.  
Jika berkaitan dengan kepedulian terhadap ruang dan waktu, maka adab berfilsafat yang berikutnya dalah sopan santun terhadap ruang dan waktu yang merupakan sopan santun terhadap yang mungkin ada dan yang sudah ada. Salah satu contohnya adalah dengan menyadarinya. Adab berikutnya dalam berfilsafat adalah yang pertama, jika yang dipikirkan adalah orang lain maka pertanyaanya adalah bagaimana mampu memahaminya. Sedangkan memahami diri sendiri sangat sulit. Jika itu tentang diri sendiri maka problem filsafat berikutnya adalah bagaimana mampu menjelaskan kepada orang lain.
Adab berfilsafat selanjutnya adalah berfilsafat itu dimulai dengan pertanyaan. Filsafat dimulai dengan suatu kekaguman tetapi kagum bukan dengan hal-hal yang besar, tapi kagum dengan hal-hal yang kecil. Contoh : suara burung (apa hakikat suara). Berfilsafat artinya harus mampu berangkat dari hal yang sepele yang dianggap orang bukan hal-hal yang  penting. Diantara contoh pertanyaan-pertanyaan beserta jawaban yang berkaitan dengan filsafat adalah sebagai berikut:
1.      Kenapa kupu-kupu yang indah berasal dari ulat yang mengerikan?
Jawab: itu merupakan suatu hukum alam dari ciptaan Tuhan dan sebagai manusia
hanya bisa mensyukuri.
2.      Bagaimana tumbuhan mempertahankan habitatnya?
Jawab: Hal ini juga merupakan hukum alam. Hukum itu berdimensi dari hukum pada
materialnya sampai spiritualnya. Hukum alam berkaitan dalam ranah pikiran sesuai dengan teori yang dikembangkan  oleh ilmu pengetahuan alam, jadi berkaitan dengan tumbuhan yang mempertahankan habitatnya maka orang biologi yang menerangkannya. Tetapi jika dipandang secara spiritual, hukum alam itu merupakan kodratnya.
3.      Apakah guna berfilsafat untuk mahasiswa pendidikan matematika?
Jawab:  Ini sama saja bertanya apa guna berfikir. Karena filsafat adalah olah pikir
yang refleksif.
4.      Apa kaitannya belajar filsafat dengan mempelajari matematika?
Jawab: sama-sama berfikir.
5.      Apa hakikat rumput yang bergoyang?
Jawab: macam-macam, bisa saja rumput itu ikut merasa senang, bisa juga dia memuji
kata-kataku, ada juga mungkin ikut merasa sedih, terserah mau diartikan apa.
6.      Apa hakikat roda yang berputar?
Jawab: roda yang berputar hakikatnya adalah bergerak, bergerak itu berubah maka
roda yang berputar itu sesungguhnya menunjukkan perubahan. Juga menunjukkan ada sesuatu yang tetap, yaitu pusat ya sebagai pusat jari-jari ya sebagai jari-jari. Maka ketika mengatakan dunia berputar, yang berputar itu hanya setengah, sisanya tetap. Maka berfilsafat itu adalah berlaku adil
7.      Apa hakikat kehilangan?
Jawab: hakikat kehilangan adalah terlepasnya kuasamu terhadap obyek yang
dimaksud sehingga tidak kuasa lagi menggunakannya. Hakikat memiliki adalah kuasa menggunakannya. Tetapi satu definisi belumlah cukup, maka definisi itu bisa kontesktual dan berdimensi. Yang sudah terjadi namanya takdir dan itu perlu disyukuri walaupun itu merupakan suatu kehilangan karena itu yang terbaik.
8.       Mengapa dalam menyampaikan matematika yang sebenarnya mudah menjadi sulit?
Jawab: karena menggunakan kata menyampaikan, sama juga dengan filsafat, filsafat
tidak disampaikan tetapi dibangun sendiri begitupula dengan matematika. Mengapa sulit, karena disampaikan.
9.      Apa pentingnya berfilsafat?
Jawab: sama dengan pentingnya berfikir.

10.  Apakah berfilsafat dapat mempengaruhi keyakinan diri?
Jawab: dibalik, hendaknya keyakinan diri mempengaruhi orang dalam berfilsafat.
Karena filsafat itu adalah pribadi. Pola pikir hendaknya diwarnai dengan keyakinan.
11.  Apakah hubungan daun-daun yang bergoyang dengan matematika?
Jawab: Segala sesuatu itu ada hubungannya, maka setinggi-tinggi hubungan,
serendah-rendah hubungan  selembut-lembutnya hubungan adalah sama-sama dipikirkan. Maka seluruh yang ada itu saling berhubungan, yaitu sama-sama dipikirkan. Kagum tapi tidak memikirkannya itu namanya mitos. Filsafat itu adalah musuhnya mitos , dan berfilsafat itu mencari logos (ilmu). Tetapi anak kecil belajar dengan mitos, bayi tidak mengerti tapi dia melaksanakannya, contohnya: makan, minum.

Aliran-aliran Dalam Filsafat

Refleksi Perkuliahan ke-2
Filsafat Pendidikan Matematika
Nama   : Ridha Esty Argarini
NIM    : 09301241008\
Prodi   : Pendidikan Matematika 2009
Aliran filsafat dapat diberi nama berdasarkan pada obyeknya, misalnya saja jika obyek filsafat tersebut adalah benda-benda alam maka filsafatnya adalah benda-benda alam. Filsafat juga bisa diberi nama berdasarkan pada nama tokohya. Misalnya Heagelianism , adalah Heagel adalah tokoh yang mengatakan bahwa segala yang ada dan yang mungkin ada itu menyejarah, maka filsafat sejarah disebut sebagai Heagelian. Nama filsafat ada juga yang ditentukan dengan sifat, misalnya benda dalam pikir itu sifatnya ideal maka filsafatnya namanya idealism , ideal artinya tetap . Aliran ini sejalan dengan Permenides yaitu tetap. Plato adalah tokoh yang pemikirannya sejalan dengan Permenides. Contohnya yang tetap adalah bilangan, bilangan itu bersifat tetap dan tidak berubah, apabila masih di dalam pikiran. Tetapi apabila bilangan sudah di luar pikiran maka bilangan tersebut akan mengikuti yang ada dan yang mungkin ada atau di sebut sebagai plural. Bilangan lima bersifat plural,karena akan muncul lima yang besar lima yang kecil, lima yang hijau lima yang kuning lima yang tebal lima yang tipis dan seterusnya. Maka filsafatnya realis yaitu bersifat real. Tokohnya adalah Aristoclian.Ada juga aliran filsafat yang diberi nama sesuai dengan aktifitasnya. Contohnya adalah Socrates yang filsafatnya diperoleh dengan cara bertanya sehingga filsafatnya diberi nama dialegtisism.
Jika yang benar satu maka filsafatnya monoisme, monoisme itu tidak lain tidak bukan adalah Tuhan. Tuhan adalah contoh dari monoisme. Jika yang benar banyak maka hal tersebut menyangkut urusan dunia.
Berbicara mengenai filsafat, filsafat adalah pikiran, maka pikiran adalah dunia. Pikiran dan dunia itu banyak sehingga termsuk dalam pluralism . Jika yang benar itu dua maka dualism contohnya adalah baik buruk. Masyarakat cenderung bersifat dualism contohny adalah pendapat tentang yang boleh dan tidak boleh, baik dan buruk dan lain sebagainya akan tetapi kurang trampil dalam membuat penjelasan antara baik dan buruk. Jarak antara yang baik dan buruk dapat dikatakan remang-remang atau tidak jelas. Daerah yang remang-remang ini menjadi daerah yang rawan, contohnya adalah rawan terhadap perilaku korup atau korupsi dan disalah gunakan.
Jika ukuran dari filsafat adalah diriku yang benar, atau benar menurut diriku maka filsafatnya adalah subyektifism. Tetapi jika mengakui pendapat orang lain maka filsafatnya disebut sebagai obyektifism. Yang benar diriku yang disebut sebagai filsafat subyektifism, tidak sesederhana itu memahaminya. Abstraksi telah dilakukan dengan cara memilih salah satu statement yang sangat singkat yaitu  “to determine” dengan memandangnya dalam arti yang luas seluas-luasnya dan dalam sedalam-dalamnya. Manusia tidak dapat lepas dari kegiatan “to determine” atau menetukan contohnya memakai baju. Memakai baju adalah kegiatan “to determine” atau menetukan terhadap baju yang dipakai. Determine absolute adalah Tuhan. Manusia yang hobinya menentukan sifat dinamakan determinis. Otoriter termasuk determinis.Jika yang benar yang kuasa maka filsafatnya adalah otoritarianism. Melihat sesuatu juga sudah termasuk determine, memikirkan juga sudah determine. Determine sejalan dengan reduksi, reduksi adalah memilih. Kodrat manusia adalah memilih dan terpilih. Contohnya manusia lahir dari rahim siapa itu terpilih oleh Tuhan. Manusia tidak bisa memlih tetapi terpilih.
Reduksi dan determine adalah metode yang sangat ampuh, tapi sekaligus sangat berbahaya dan sangat merugikan. Misal seseorang sedang memandang sesuatu maka, orang tersebut kehilangan kesempatan untuk memandang yang lain dan menjadi orang yang sangat merugi, karena yang lain juga punya hak yang sama untuk dipandang,  sehingga orang tersebut memiliki sifat reduksi dan determine sekaligus. Akan sangat berbahaya jika determine itu menutupi sifat yang lain sehingga sifat yang lain itu tidak berdaya.
Filsafatnya para dewa disebut sebagai filsafat transendennism. Siapakah yang dimaksud dewa? Dewa yang dimaksud disini adalah diriku yang dimensinya setingkat lebih tinggi dari orang atau objek yang lain yang ada di bawahnya. Contoh seorang kakak adalah dewa bagi adiknya, Maka ilmu seorang kakak itu transenden, contohnya adalah jika kakaknya korupsi maka adiknya tidak akan mengerti. Sehingga analog dengan hal tersebut maka koruptor adalah dewa dan yang bisa menangkap adalah dewa yang lain misalnya KPK. Yang dimaksud dengan transenden adalah diluar batas. Dewa adalah termasuk dalam yang ada dan yang mungkin ada terhadap sifat-sifatnya. Manusia adalah dewa bagi setiap bajunya. Yang dimaksud bukanlah metode tradisional untuk memahami para dewa. Belajar filsafat antara lain juga belajar memahami komunikasinya para dewa, sehingga belajar filsafat bukanlah hal yang mudah karena sifatnya yang berdimensi-dimensi. Berfilsafat juga adalah merupakan sopan santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada.
Jika yang benar yang untung maka filsafatnya adalah capitalism. Maksudnya bukanlah hanya dar yang benar yang untung dalam arti sempit. Sama halnya dengan matematika, benar jika masih dipikirkan, dan bisa jadi menjadi salah apabila diucapkan, karena ucapan itu terbatas. Karena pertama diucapkan dan yang kedua diucapkan itu sudah beda. Itulah yang dimaksud filsafat adalah kontradiksi. Dan perlu dipahami bahwa kontradiksi dalam filsafat berbeda dengan kontradiksi dalam matematika.
Tanya jawab:
1.      Adakah kata lain dengan selain dewa untuk menggambarkan tingkatan atau dimensi?
Jawab:
Kata dewa dipilih karena merupakan kata yang paling mewakili, kecuali untuk agama tertentu yang mungkin merasa risi karena kata dewa yang dipakai. Filsafat itu menggunakan bahasa analog yang lebih dari sekedar bahasa kiasan. Para dewa itu sifatnya memenuhi syarta-syarat tertentu itu tidak? Oleh karenanya hal itu termasuk dalam bahaya dari filsafat apabila tidak ditempatkan pada konteksnya. Ketika mengatakan bahwa kamu adalah dewa bagi adikmu itu sudah salah ketika keluar dari pembicaraan filsafat (proses berfilsafat). Padahal kecenderungan yang dilakukan adalah membawa istilah-istilah filsafat itu keluar, dan akan menjadi salah jika tidak sesuai dengan konteknya. Oleh karenanya bahaya dari orang berfilsafat adalah apabila parsial ,tidak kontekstual dan sepenggal-sepenggal atau tidak utuh. Maka jika akan mengatakan sesuatu haruslah adil misalnya: wahai adikku aku adalah dewa bagi dirimu, ntetapi engkau juga dewa bagi bajumu. Hindari bersifat bersifat manipulative. Akan tetapi hal ini juga termasuk salah karena berbicara pada orang yang belum semestinya memikirkan hal tersebut. Filsafat bersifat refleksif dan untuk orang-orang dewasa yang mungkin mampu memikirkannya. Artinya walaupun sudah tua belum tentu dewasa pemikirannya. Umur bukan ukuran dari kedewasaan.
2.      Apakah mungkin diantara para dewa itu bisa saling menjadi dewa bagi yang lainnya?
Jawab:
Tentu bisa, karena dewa itu manusia, dewa juga punya raja, punya rakyat, punya tentara.
Pertanyaan:
Berpikir untuk memahami bahasa analog yang diciptakan oleh para dewa, apakah hal seperti itu yang termasuk dalam proses berfilsafat?

Kamis, 12 Januari 2012

Laporan Penelitian PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU MATEMATIKA SMP RSBI MELALUI LESSON STUDY



Oleh:
Dr. Marsigit, M.A.
Dr. Hartono
Sahid MSC
Aryadi Wijaya MSC

Reviewed by:
Ridha Esty Argarini
Student of Mathematics Education class of 2009
http:/ridhaestyargarini.blogspot.com

                Education has a significant effect to the process of increasing the quality of human source. Education is expected to be one of media to prepare the youth generation that ready to face the real fast dynamic development of science and technology. All of study subjects at school have their own role, and it is no exception for mathematics because as we know that on the process of teaching learning mathematics there are aims and from this aims of learning mathematics we can overcome the role of mathematics at the case of creating good quality of students.
                Now we want to focus at the mathematics subject. There are many kind of way to teach mathematics, and the most popular method in the world nowadays is the method with contextual problem as a major, and one kind of this method is Realistic Mathematics Education.
                Indonesia has wisdom to improving the quality of their national education through developing international level of school. The school with international level label should be able to apply such kind of based on problem teaching method like a realistic mathematics education.
                Lesson study being one media to facilitated the teacher to be able to apply good method of teaching mathematics. Through this lesson study the teacher have a change to doing research in the aim to improving the quality of teaching learning mathematics. The teacher competences that need to be improved are: the competence to developing realistic mathematics education, the competence to developing the mathematical thinking and the competence to developing discussion method through various interactions with the problem solving and investigation method. These competences could be able to improved through doing lesson study.

Jumat, 30 Desember 2011

How to Promote International Level of Schooling If I were Agency Head of Education

 

By: Ridha Esty Argarini
09301241008
Student of Mathematics Education 2009
Nowadays International Level of Schooling became a brand that is interesting for the world of education, and Indonesia is no exception. Every district government in Indonesia competed to create International Level of Schooling in their region. Actually global competition that was begun in International education world demanded every country to prepare their own young generations quickly to improve their readiness to face it. With district autonomy that was applied in Indonesia, the district government has a rule on the case of construct their own district including in the side of education. The rising of International Level of Schooling in a district actually will raise the image of this district.
                The international level of schooling was wished to be able to compete with other schools at the international level and it’s not only at the national region of Indonesia but also at the international region of this world. But unfortunately, the rising of international level of schooling in Indonesia nowadays is like only as a label or a symbol. There are many matters that were still need to improve from the case of teacher, student, headmasters and also the agency head of education a leader that have a rule to decide a wise. For example, there was still a teacher on the international level of schooling that was used traditional method on the process of teaching learning, maybe actually they already use and apply the procedure of modern teaching learning method, but in fact it’s just a procedure like using different formation on the position of the student and the use of modern technology but actually they still apply teacher center learning and as we know that it was the characteristic of traditional method of teaching learning. This was indicated that there is misunderstanding about modern method of teaching learning. It should be an attention for the government especially agency head of education in every district as a decider of wises.
                The agency head of education has a function as a planner of education developing program, a coordinator, a supervisor and a decider of an education policy. Base on the function or rule of the agency head of education, then if I were an agency head of education I will create an innovation that have an aid to improve the system and the quality of education, in the case of teacher, student, headmaster and also all of stakeholder at school is my first priority as the first step to construct the real of international level of school. In my point of view, quality is the most important. A school that was declared as international level of schooling should really suitable in a facility and quality manner.
                As a principal that the rising of international level of schooling should be considered as a necessary, such as the necessary of better quality so they can compete with other international level of schooling in the world and not only as the necessary or better image for a district. So that as an agency head of education, then the policies that I am able to take is developing and supervising the school that is has a potential to be international level of schooling overall. The school that was promoted to be international level of schooling should be able to give a real contribution for the district development, such as reliving the local potential in order to make it known in the international society.
                Beside that, the quality development of teacher, headmaster and staff should through a right and appropriate process. The development of school to be international level of schooling should be balanced with the development of teacher competence in order to grab international level of teacher. The way to do this development are through deciding a right policy such as give a facility of lesson study for the teacher with doing a cooperation with university in order to extend the teachers’ ability, competency and knowledge. The giving of facility like a chance for the teacher to develop their competence also should be balanced with a continue supervising to the development of teachers’ work. Beside that in aid to create good international level of schooling, as a agency head of education I should be able to construct an international network specially in the case of education, through promoting local potential that was developed at school or through give a support by give a facility and enough budgeting for school and student to follow kinds of international competition and workshop.
                However for me, to be real international level of schooling so that school should really understand about the situation of international competition and also understand about the level should be reached to be able to parallelized with others real international level of schooling. The international level of schooling is not only about applying English as an international language and doing moving class at the process of teaching learning but also as a level and quality that is appropriate with that name as international.